Showing posts with label kemuliaan hidup. Show all posts

Sekilas Kebesaran Bangsa Nusantara di Masa Silam [bagian kedua]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , ,

lanjutan

Fakta sejarah mencatat, betapa dengan penguasaan teknologi kelautan yang tinggi itu, di Nusantara telah tegak Negara-negara maritim yang kuat seperti Sriwijaya, Kalingga, Mataram, Singhasari, hingga Majapahit. Dengan kemampuan memanfaatkan teknologi kelautan yang tinggi, penguasa Sriwijaya pada paruh abad ke-8 melakukan ekspansi menggempur Khmer, memenggal kepala raja Khmer bernama Mahipatiwarman; menggantinya dengan Jayawarman II yang sudah dididik di Jawa oleh Maharaja Syailendra (Hall, 1961).

Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian kedua)  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , , , ,

[sambungan Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian pertama)]


Sumpek, buntu, dan absurd.
            Baiklah, sekarang kita kembali saja kea lam, kembali tetirah ke pegunungan dan lembah, dimana kendaraan-kendaraan besar dan alat berat sedang “mensyukuri” nikmat Tuhan berupa ala mini, dengan menghabiskan sumber daya alam, yang disediakan oleh alam lewat rentangan berabad-abad lamanya. Yang keserakahan kita saat ini, menghabiskannya dalam hitungan bersin saja. Ketika ia akan ditambang, diumumkan bahwa hasilnya akan menetes ke setiap telapak tangan seluruh rakyat yang tengadah. Dan sekarang ketika hasilnya sudah akan habis; rakyat tetap menadahkan tangan, menunggu. Tapi yang jatuh di tadahan tangannya adalah janji, janji dan janji. Paradox of Plenty.

MAIYAH PETUNJUK ALLAH SWT  

Posted by Unknown in , , , , , , , ,

MAIYAH PETUNJUK ALLAH SWT
           
Totok Raharjo

            Untuk apa Allah SWT menyebut ma’a (akar kata maiyah) 161 (seratus enam puluh satu) kali dalam Al Qur’an? Saya kira pesannya jelas bahwa ukuran kemakmuran, ukuran kesejahteraan, ukuran kebahagiaan merupakan urusan bersama. Maka Allah menciptakan modal kesejahteraan material berupa Sumber Daya Alam memang diperuntukkan untuk kepentingan bersama bukan untuk memperkaya seseorang apalagi untuk menciptakan ketidakadilan di masyarakat.

Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian ketiga)  

Posted by Unknown in , , , , , , ,


Apa dan Mengapa Ruwatan Agung?
            Ruwatan yang sebenarnya merupakan langkah koreksi adalah salah satu bentuk ikhtiar dalam ruang muamalah khas penduduk nusantara ketika individu atau masyarakat berharap akan datangmya kebaikan, yang dengan demikian artinya juga sekaligus menolak konsekwensi dari tindakan salah atau buruk. Sebenarnya di belahan negeri lain dan dalam setiap agama juga ada ritual semacam ini walaupun penamaan dan manifestasinya bisa saja berbeda demikian pula maksud dan alasan yang mendasari berbeda.

Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian kedua)  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

[sambungan Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian pertama)]



Ironi Sebuah Negeri dengan Aneka Potensi
            Nusantara sebuah negeri kaya raya dengan keunggulan yang secara komparatif sulit dicarikan bandingannya di negeri manapun di dunia ini termasuk dalam hal keindahannya atau sebagaimana diibaratkan oleh Mpu Tanakung sebagai bahtera (perahu besar) sebagai lambang perjalanan kehidupan warga bangsa dengan aneka bunga nan indah di dalamnya, ternyata kembali di era ini tidak kunjung membuat sadar para elit akan potensi kebesaran yang bisa diraih bangsa dan negerinya.

La Indonesia illa Nusantara  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , , , , , ,

La Indonesia illa Nusantara

9.1

Orang-orang Maiyah menangis hanya kepada Allah
Tidak kepada siapa dan apapun lainnya
Orang-orang Maiyah mensujudkan tangisnya
Di sajadah airmata Muhammad Imam tunggal kehidupannya
Sajadah airmata Rasulullah menjadi sungai panjang kerinduan
Mengalir menuju ufuk kesejatian dan keabadian
Mengalir hingga melampaui cakrawala akhir zaman
Sampai akhirnya menguap menghampa Di Sidratil Muntaha pesta sunyi rahasia

GAJAH MENCARI DAULAT  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

GAJAH MENCARI DAULAT
Sabrang Damar Panuluh


            Penjajahan paling efektif adalah bagaimana membuat si terjajah tak sadar bahwa dirinya dijajah. Penjajahan fisik itu kuno, berbiaya tinggi, dan beresiko tinggi.
Kalau dulu Belanda menjajah nusantara, pasti membutuhkan kekuatan militer yang besar. Kekuatan militer itu membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk me-maintain-nya. Semakin lama dijajah, si terjajah berubah menjadi bom waktu. Keresahan menimbulkan gerakan-gerakan yang pada waktunya akan meledak. Konflik akan terus terjadi dan lama kelamaan penjajahan jadi kegiatan yang sangat melelahkan. High cost high risk, tidak sesuai prinsip ekonomi katanya.