Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Kelima]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,




Maiyah Sebagai Bahtera Kebangsaan
Secara simulatif, konstelasi politik di Indonesia pasca pemilu legislatif dan menjelang pemilihan presiden 2014 sudah bisa dibayangkan keruwetannya. Siapapun presiden yang terpilih akan mewarisi kompleksitas persoalan dari pendahulunya. Situasi parlemenpun akan menghadapi perkara yang sama. Baik itu mengenai perilaku anggota-anggotanya maupun mutu pada hasil-hasil kerjanya. Rakyat akan tetap berlaku sebagai obyek penderita yang terabaikan kesejahteraanya. Situasi adu kuat dan saling sandera kepentingan antar golongan masih terus berlangsung, seperti tampak di panggung politik Indonesia dewasa ini. Kondisi demikian akan terjadi, dengan catatan: semua pemegang kekuasaan tidak mau merevolusi dirinya sendiri.
Idealnya, pemerintahan hasil pemilu 2014 ini bisa dijadikan batu loncatan strategis untuk mengobati penyakit bangsa yang terlanjur kronis. Rentang lima tahun kedepan, bisa dijadikan masa transisi untuk bersih-bersih dan memugar konstitusi untuk mengamandemen pasal-pasal yang mengancam kesejahteraan rakyat. Perbaikan system pada lembaga-lembaga negara yang selama ini menjadi sarang korupsi juga bisa dilaksanakan pada masa transisi tersebut. Demikian pula dengan pembenahan mekanisme pemilu berikut resvisi undang-undang kepartaian, supaya pribadi-pribadi yang terpilih untuk memegang amanat kedaulatan rakyat, bisa berkualitas dan mengedepankan keadilan. Rekonsiliasi nasional terhadap generasi-generasi yang tersakiti di masa lampau, bisa digelar. Agar Indonesia lancer berkembang tanpa diselipi dendam dari rakyatnya.
Sayangnya, tidak gampang untuk mencapai hal ideal tersebut. Bahkan nyaris mustahil, jika melihat peta politik terkini. Tapi, Indonesia tentu tak ingin berakhir layaknya Majapahit. Luluh lantak dalam benturan berkepanjangan, tercerabut dari akarnya, lantas tersingkir dari pentas sejarah berjalan. Kajian-kajian mengenai keruntuhan Majapahit sudh selayaknya dijadikan formula untuk menemukan karakter ke-Indonesia-an yang kokoh dan melindungi semua pihak yang bernaung di dalamnya.
Perlu pemicu yangdahsyat dengan daya tembak yang hebat untuk menjebol kebutuan system bangsa ini. Pada peran inilah, maiyah bisa secara aktif terjun membuka jalan keluar kreatif bagi bangsa. Menginisiasi adanya revolusi. Menggalang kesadaran dari berbagai pihak untuk instropeksi diri: bahwa harus ada perbaikan yang fundamental dalam system ketatanegaraan dan cara berpikir kebangsaan di Indonesia.
Komunirtas-komunitas yang tergabung dalam ikatan maiyah berperan seperti layaknya wanua-wanua yang menebarkan semangat kepada daerah-daerah untuk tetap optimis menjejak masa depan. Member jabaran strategis, sekaligus mengiringi implementasi teknis dengan daerah-daerah tersebut, agar tidak goyah ketika Jakarta mengalami krisis. Para intelektual maiyah berlaku layaknya kaum tapa yang menghuni mandala-mandala. Menghuni laboratorium-laboratorium maiyah, untuk merumuskan sekaligus menguji gagasan-gagasan segar demi kemaslahatan bangsa.
Langkahnya bisa dimulai dengan memanfaatkan momentum pasca pemilu, agar bisa dijelmakan sebagai masa transisi untuk melakukan nyadran bagi negeri. Menggelar upacara refleksi sekaligus konsolidasi nasionalisme. Nilai-nilai keluhuran dan konsep-konsep hidup bersama yang telah bertahun-tahun digodog dalam diskusi-diskusinya, sudah saatnya diujicobakan. Maiyah layaknya bahtera besar yang menampung aspirasi suci dan wangi bangsa ini menuju Indonesia yang memangku dunia. Menjadi banawa mengangkut sekar kebangsaan, untuk nyadran Indonesia.

                       


Lubuklinggau, 10 Mei 2014

This entry was posted on Friday, June 6, 2014 at 1:28 AM and is filed under , , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment