GAJAH MENCARI DAULAT  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

GAJAH MENCARI DAULAT
Sabrang Damar Panuluh


            Penjajahan paling efektif adalah bagaimana membuat si terjajah tak sadar bahwa dirinya dijajah. Penjajahan fisik itu kuno, berbiaya tinggi, dan beresiko tinggi.
Kalau dulu Belanda menjajah nusantara, pasti membutuhkan kekuatan militer yang besar. Kekuatan militer itu membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk me-maintain-nya. Semakin lama dijajah, si terjajah berubah menjadi bom waktu. Keresahan menimbulkan gerakan-gerakan yang pada waktunya akan meledak. Konflik akan terus terjadi dan lama kelamaan penjajahan jadi kegiatan yang sangat melelahkan. High cost high risk, tidak sesuai prinsip ekonomi katanya.
Maka kemudian dibutuhkan terobosan-terobosan baru, gagasan-gagasan baru. Bagaimana bisa mencecap darah si terjajah tanpa mereka tahu, dah bahkan gembira bahwa dirinya disedot habis.
Tapi apa mungkin??
Sebuah grand scenario harus ditata manusia “hanyalah” mesin. Seperti computer, dia akan memiliki output yang terprediksi ketika diberi input tertentu. Input manusia adalah (*) inderanya. Mata, telinga, dan lain sebagainya. Bagaimana kalau kita bisa kontrol semua input yang masuk ke mereka? Tanpa harus kita atur repot-repot, mereka akan melalui jalan dan keputusan-keputusan yang kita mau tanpa kita suruh. Resikonya kecil untuk “si pengatur”, karena mereka tak pernah tau bahwa sesungguhnya mereka diatur. Kalau mau berontak, mereka juga ga bakal tahu berontak kepada siapa, apalagi caranya.
“Jangan memudahkan” kata si penjajah. “Cecunguk-cecunguk itu pasti punya cara berfikir sendiri yang tidak bisa (di)kontrol. Input yang kita beri bisa ber-output berbeda dengan yang kita inginkan”.
“Mungkin tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin, tinggal kita beri tolak ukur (**) di hidup mereka sebagai dasar pemikiran. Kita buat mereka percaya para ahli itu maha tahu, kita buat seolah-olah semua media tak punya kepentingan kecuali suara rakyat, kita buat harta itu lebih berharga daripada ilmu. Hidup enak itu lebih utama daripada hidup mulia. Nanti patron mereka adalah orang terkenal dan kaya raya, tidak diusut caranya bagaimana bisa kesana. Orang berilmu tak ada yang dipercaya, karena buat apa ilmu tinggi-tinggi tapi mobil aja ngga punya. Kita pasang pemimpin dari kalangan merekatapi sudah dengan tolak ukur(**) cara berfikir yang kita mau. Seterusnya nanti akan jadi mudah”.
Anggaplah ini percakapan sebuah pertunjukan teater.
Tapi coba kita diam sejenak dan melihat. Apa yang mungkin sudah terjadi? Seberapa banyak kesimpulan terhadap apapun di dalam otak kita yang tidak asli dari keputusan pemikiran kita. Seberapa percaya kita pada gembar-gembor tanpa bisa memutuskan sendiri bahwa itu hanya sekedar wacana. Itupun kalau datanya tidak dimanipulir.
Dengan mudah kita menyerahkan kedaulatan kita sebagai manusia. Sesuatu yang paling fundamental yang bernama kebebasan berfikir kita serahkan begitu saja tanpa ada pertanyaan. Informasi berseliweran dan dengan polosnya kita anggap sebagai kebenaran mutlak.
Memang tak mungkin manusia mengetahui semuanya. Untungnya ada bocoran dari Sang Maha yang dibawa utusannya. Jika memang tak mampu berfikir sendiri, serahkan pola berfikir berdasar informasi yang sekalanya dunia akhirat, yaitu dari Sang Pemilik HIdup itub sendiri. Bukan ilusi-ilusi yang dibuat manusia untuk kepentingannya sendiri.
Kebangkitan bangsa dimulai dari kebangkitan manusianya. Kebangkitan manusia tidak akan terjadi jika manusia tak tahu siapa dirinya. Manusia tak tahu siapa dirinya jika tak mampu menembus tabir-tabir yang terpampang didepannya. Apalagi yang sengaja dibuat oleh manusia lain dengan tujuan kepentingannya.
Berfikir dalang-pawang.
Konsep dalang dan pawang hamper mirip. Mereka mastermind di belakang layar yang mengatur affair yang terjadi untuk sebuah tujuan tertentu. Tapi ada perbedaan disini. Dalang mengatur dengan kekuatan. Seperti seorang dalang mengatur wayangnya. Si wayang bergerak karena perintah atau takut pada si dalang. Beda cerita dengan si pawang. Si pawang berbuat sedemikian rupa sehingga apa yang dipawangi terkontrol bukan oleh kekuatan si pawang. Tapi lebih pada ilusi yang diciptakan pawang, dan dipercayai korban. Korbannya terikat oleh kekuatannya sendiri, dan bukan kekuatan si pawang.
Pernah melihat gajah besar yang diikat oleh rantai kecil di kakinya? Mungkin ada berfikir karena si gajah bodoh sehingga tak mau melepaskan diri. Karena sangat mudah bagi si gajah dewasa untuk menjebol rantai di kakinya. Tapi yang terjadi bukan demikian. Rantai itu ada di kaki gajah sejak dia kecil. Ketika gajah masih kecil, dia memang tak mampu untuk menjebo rantai itu. Ketika dewasa, tertanam dalam dirinya bahwa memang dirinya tak mampu menjebol rantai. Tidak membayangkan bahwa dirinya adalah gajah yang sangat besar (berbeda dengan masa kanak-kanaknya) yang akan dengan mudah menjebol rantai itu. Si gajah terkurung oleh ilusinya sendiri, yang “sedikit dibantu” oleh si pawang.

Gajah itu terselamatkan oleh bahtera Nabi Nuh saat itu. Bagaimana dengan gajah yang berna,a Nusantara ini?

(*)dari
(**)mungkin yang dimaksud adalah tolok ukur

This entry was posted on Sunday, June 8, 2014 at 1:36 AM and is filed under , , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment