Showing posts with label maiyah. Show all posts

Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian kedua)  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , , , ,

[sambungan Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian pertama)]


Sumpek, buntu, dan absurd.
            Baiklah, sekarang kita kembali saja kea lam, kembali tetirah ke pegunungan dan lembah, dimana kendaraan-kendaraan besar dan alat berat sedang “mensyukuri” nikmat Tuhan berupa ala mini, dengan menghabiskan sumber daya alam, yang disediakan oleh alam lewat rentangan berabad-abad lamanya. Yang keserakahan kita saat ini, menghabiskannya dalam hitungan bersin saja. Ketika ia akan ditambang, diumumkan bahwa hasilnya akan menetes ke setiap telapak tangan seluruh rakyat yang tengadah. Dan sekarang ketika hasilnya sudah akan habis; rakyat tetap menadahkan tangan, menunggu. Tapi yang jatuh di tadahan tangannya adalah janji, janji dan janji. Paradox of Plenty.

Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa Saya Sedang Sakit [bagian pertama]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , ,

Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa
Saya Sedang Sakit
Rio NS

            Anamnese sebagai satu SOP dalam penanganan penyakit oleh seorang dokter tidak jarang memunculkan satu kesulitan yang langsung menyergap ketika pasien harus menjelaskan “sedang sakit apa saya ini” karena akurasi yang membebani sehingga jawaban tersebut bisa dijadikan dasar bagi tenaga medis untuk melakukan diagnosa dan tentu saja langkah terapi pada tahap selanjutnya. Untuk itulah, pada dunia medis modern, dokter juga melihat gejala klinis dari sisi anatomi, fisologis dan bantuan diagnostik juga semakin canggih dengan menggunakan uji sample jaringan, penggunaan sinar rontgen dan olah laboratorium lainnya.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Kelima]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,




Maiyah Sebagai Bahtera Kebangsaan
Secara simulatif, konstelasi politik di Indonesia pasca pemilu legislatif dan menjelang pemilihan presiden 2014 sudah bisa dibayangkan keruwetannya. Siapapun presiden yang terpilih akan mewarisi kompleksitas persoalan dari pendahulunya. Situasi parlemenpun akan menghadapi perkara yang sama. Baik itu mengenai perilaku anggota-anggotanya maupun mutu pada hasil-hasil kerjanya. Rakyat akan tetap berlaku sebagai obyek penderita yang terabaikan kesejahteraanya. Situasi adu kuat dan saling sandera kepentingan antar golongan masih terus berlangsung, seperti tampak di panggung politik Indonesia dewasa ini. Kondisi demikian akan terjadi, dengan catatan: semua pemegang kekuasaan tidak mau merevolusi dirinya sendiri.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Keempat]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

sambungan dari Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Ketiga]


Yang Bertahan dalam Pusaran Konflik
 Sebagai sebuah produk kebudayaan, Banawa Sekar adalah buah pikir yang lahir dimasa krisis. Perangkat itu dimunculkan oleh golongan-golongan yang masih bertahan di tengah disorientasi sosial-politik Majapahit. Saat negeri itu di ambang keruntuhan, terdapat unit-unit masyarakat yang tidak turut terseret pada kericuhan-kericuhan. Mereka adalah lingkungan kecil yang berada di jarak yang jauh dari pusat pemerintahan Majapahit. Unit-unit ini terlatih untuk mandiri dan tidak terpengaruh akan imbas buruk konflik-konflik elit yang tengah dialami Majapahit. Unit sosial tersebut adalah wanua dan mandala. Dalam istilah lain, keduanya bisa disebut sebagai unit-unit penyitas krisis.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Ketiga]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , ,

sambungan dari Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Kedua]

 Makna Tersirat Banawa Sekar


Sraddha merupakan upacara yang lazim diselenggarakan di zaman Majapahit. Sebab upacara ini merupaka tradisi dari agama Hindu. Fungsinya, sebagai upacara penghormatan atas anggota keluarga yang meninggal dunia. Biasanya dilakukan oleh anggota keluarga yang masih hidup. Upacara Sraddha dilangsungkan pada jangka 12 tahun setelah meninggalnya seorang raja yang diperingati itu. Rupanya jarak waktu 12 tahun ini sudah merupakan aturan, karena di dalam dua buah Prasasti Jiu terdapat istilah dwadasawarsa sraddha. Pada jaman keemasan Majapahit, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, upacara sraddha semacam itu pernah berlangsung dalam rangka memperingati arwah bunya yaitu Tribhuwana Wijayottunggadewi. Upacara sraddha ini terekam dalam kitab Kakawin Nagarakertagama dan kitab Paratron. Upacara sraddha untuk rajapatni tersebut berlangsung 12 tahun setelah wafatnya Tribhuwana Wijayottunggadewi, yaitu pada tahun 1350 M.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Kedua]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

Berkaca Kepada Masa Lalu

            Menjelang keruntuhannya, Majapahit kayaknya berada dalam rerimbunan yang menggiriskan.kegelisahan rakyat menjalar, saat menyaksikan pertikaian para petinggi istana. Intrik politik berseliweran, kasak-kusuk antara para pejabat meluncur saling menjatuhkan. Sepeninggal Hayam Wuruk yang mangkat tahun 1389, percik-percik kehancuran mulai terlihat di tubuh imperium itu. Patih amangkubhumi Gajah Mada  sendiri telah wafat 25 tahun sebelum sang prabhu.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Pertama]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , ,

BANAWA MAIYAH, SEKAR KEBANGSAAN
Erik Supit

            Topik sejarah mengenai masa-masa akhir Majapahit tak habis-habis untuk dibicarakan. Kejatuhannya yang tragis, menyimpan pelajaran besar. Imperium raksasa tumbuh dengan percaya diri tersebut, pada akhirnya mesti bertekuk lutut dengan perubahan zaman. Banyak faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan itu. Semuanya jalin-menjalin membentuk pola yang saling mempengaruhi dan berhubungan sebab akibat.