Berkaca Kepada Masa Lalu
Menjelang
keruntuhannya, Majapahit kayaknya berada dalam rerimbunan yang
menggiriskan.kegelisahan rakyat menjalar, saat menyaksikan pertikaian para
petinggi istana. Intrik politik berseliweran, kasak-kusuk antara para pejabat
meluncur saling menjatuhkan. Sepeninggal Hayam Wuruk yang mangkat tahun 1389,
percik-percik kehancuran mulai terlihat di tubuh imperium itu. Patih
amangkubhumi Gajah Mada sendiri telah
wafat 25 tahun sebelum sang prabhu.
Tidak
adanya sosok kuat yang sanggup mengotrol jalannya kekuasaan membuat suasana
pemerintahan menjadi limbung. Perang paregreg yang meletus tahun 1404, telah
menjadi pemicu mematikan dengan buntut pahit yang panjang. Konspirasi para
bangsawan silih berganti menggerogoti kebesaran Majapahit. Nilai-nilai luhur
kepemimpinan pada ajaran astabrata, astadasa,kotamaning prabhu, panca titi
darmaning prabhu dan catur praja wicaksana, yang selama ini mengiringi kerajaan
itu mencapai kejayaan berangsur-angsur ditinggalkan. System perundang-undangan
Kutaramanawa tidak lagi dijalankan sebagaimana mestinya.
Konstelasi
politik kian ruwet, saat krisis ekonomi melanda. Korupsi merajalela. Elit
Majapahit terjebak pada tujuan-tujuan egois. Sembari mengejar ambisi politik
golongan, mereka berlmba menumpuk kekayaan pribadi. Hasrat konsumtif kaum
aritrokat meninggi. Beras, lada, garam, kain dan satwa-satwa indah yang selama
ini jadi komoditas ekspor ke mancanegara, mesti dipertukarkan dengan mutiara,
emas, perak, sutra, dan perkakas keramik, yang hanya akan dimiliki oleh para bangsawan
itu. Kerja keras rakyat menjadi tak sebanding lagi, ketika para pengendali
kekuasaan tidak melakukan kewajiban utama mereka untuk menyejahterakan rakyat.
Kejahatan-kejahatan mengisi jalanan kotaraja tiap hari. Para prajurit dan
jajaran penegak hokum yang selama ini menjaga suburnya keadilan, sudah tidk
peduli lagi dengan situasi. Mereka yang tengah dililit kemiskinan, sebab gaji
yang tak diterim, lebih focus untuk mencari sumber penghasilan lain daripada
melakukan kewajibannya sebagai abdi Negara.
Keadaann
sedemikian kacau itu masih harus ditambah dengan merebaknya ketidak
percayan politik dari neara-negara bawahan. Disintegrasi akhirnya menjadi
pilihan. Negara-negara kecil selama ini yang bernaung di bawah payung
persemakmuran Majapahit mulai melepaskan diri, berniat membangun pemerintahan
mandiri. Mjapahit memasuki usia senja dengan masalahyang berlipat-lipat.
Menilik peristiwa-peristiwa yang tengah berlangsung di
Indonesia pada hari-hari belakangan, layaknya memutar kembali rekaman politik
masa silamtentang kejatuhan Majapahit itu. Terdapat topik-topik yang mirip
kegaduhan para elit politik di Jakarta pasca pemilu 2014, menghadirkan
kegelisahan lama tentang pertanyaan: mampukah Indonesia bangkit dari
keterpurukan yang kompleks? Di tengah kabar-kabar korupsi serta kejahatan
regulasi yang tak habis-habis, rakyat masih harus disuguhi dengan adegan para
politisi yang saling tawar dan tawan, berebut remah-remash kekuasaan.
Seperti menonton pementasan drama dengan lakon yang
mengecewakan.yang Nampak pada babak demi babak hanyalah fragmen-fragmen
konspirasi antar partai politik agar bisa mencapai dominasi kelompok.
Transaksi-tansaksi digelar, suara rakyat pada pemilihan umum tempo hari
dijadikan mata uang. Panggung politik Indonesia menjelma balai lelang dengan
pialang-pialang cupet sebagai penyelenggaranya. Mereka mengejar laba sesaat
tanpa menghitung resiko besarnya: asa depan rakyat dan sumber kekayaan negara
yang tergadai serta dijarah segelintir orang. Rakyat menyaksikan dengan
mengelus dada. Menyimpan kembali harapan-harapan yang nyaris membumbung sebelum
pemilu legislatif berlangsung. Meski begitu, rakyat kebanyakan tetap setia
bergelut dengan keseharian yang tak kalah dinamis. Gelombang sejarah Indonesia
yang turun naik, bahakan sebelum negara ini didirikan tahun 1945, telah
mewariskan mental tangguh dalam menghadapi kehidupan yang sulit. Mereka telah
terbiasa mandiri dan tidak bergantung kepada institusi negara. Sembari menahan
cemas tentang siapa yang nantinya akan terpilih sebagai presiden. Lalu bertanya-tanya,
apakah kedepan, keadaan negeri ini akan lebih baik atau justru makin buruk.
Suasana batin yang tidak jauh beda, juga dirasakan
oleh kaum jelata ketika Majapahit berada di ambang kejatuhan. Naiknya
Wijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya menduduki singgasana keratin sebagai
raja yang ke-7 pada tahun 1447 hingga, sempat memberikan optimism bagi sebagian
besar orang. Sosok yang di dalam prasasti Waringin Pitu dijuluki “Sri Bhattara
Prabhu” itu, desebut-sebut sebagai pemimpin yang bisa menyelesaikan huru-hara
di jantung kekuasaan Majapahit. Ia dijadikan model, bagi generasi baru raja
Majapahit yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Selain itu, Dyah
Kertawijaya juga dianggap bisa menyelesaikan krisis kepercayaan rakyat terhadap
elit politik yang terus berselisih, sebagai kelanjutan dari dendam masa lalu.
Namun, malang tak dapat ditolak, Kertawijaya mengalami kebuntuan. Ia keliru
memilih jalan, dengan mengangkat orang-orang yang khianat untuk menjadi
pendampingnya dalam memerintah. Para pejabat yang mengelilinginya, tak lebih
hanyalah bangsawan-bangsawan penjilat yang haus kuasa. Kertawijaya terbunuh
dalam serangkaian kudeta pada tahun 1451.
Penggantinya, Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang
Sinagara juga bernasib miris. Pemerintahannya hanya berjalan 3 tahun.
Kematiannya mencengangkan, karena tenggelam di laut saat sedang bertamasya
dengan putra-putrinya. Desas-desus yang berkemban di istana,mengatakan bahwa
Dyah Wijayakusuma terjangkit hilang ingatan. Batinnya tertekan ketika harus menyelesaikan
persoalan Majapahit yang kompleks dalam waktu sesegera mungkin. Kondisi ini
membuatnya jatuh dalam kubangan putus asa. Intrik-intrik politik dari
aristokrat lain yang berkeliaran mengancam tahta, membuat keseatannya menurun
dan kewarasan pikirannya terganggu. Saat putra-putrinya berusaha menghibur
dengan mengajaknya berwisata dengan perahu di laut, Sang Sinagara lepas
kendali. Ia menceburkan diri lantas tenggelam. Setelah peristiwa itu, majapahit
mengalami kekosongan kekuasaan selama tiga tahun. Disintegrasi kian
menjadi-jadi. Kriminalitas bertebaran tak tertanggulangi. Makin banyak daerah
taklukan yang memisahkan diri dari Majapahit.
Dua belas tahun setelah Sang Sinagara meninggal,
anak-anaknya menyelenggarakan upacara persembahan atau disebut pula dengan
istilah Sraddha Banawa Sekar. Sebuah gelaran besar yang diselenggarakan oleh
salah satu anak Sang Sinagara yang menjadi pemimpin di Kahuripan, salah satu
negara bawahan Majapahit. Oleh sebab itu ia dikenal sebagai Bhre Kahuripan.
Ketika itu Majapahit dipimpin oleh Girisawardhana Dyah Suryawikrama Hyang
Purwawisesa yang memegang tampuk kekuasaan dari 1456 hingga 1466. Upacara
inilah yang kemudian direkam oleh Mpu Tanakung dalam Kakawin yang berjudul sama
dengan upacara itu, yaitu Banawa sekar.
[bersambung ke bagian ketiga...]
[bersambung ke bagian ketiga...]
This entry was posted
on Tuesday, June 3, 2014
at 10:40 AM
and is filed under
banawa,
bunga,
kebangsaan,
leluhur,
maiyah,
majapahit,
nusantara,
penghormatan,
politik,
sekar,
upacara
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.