Regulasi Sebagai Sebuah Analgesik
& Anti Inflamasi
Sekian
tahun bergabung di sebuah korporasi global, mengajarkan kepada saya bahwa
kehidupan sebuah perusahaan ditopang dari dua hal utama yaitu tercapainya
target pemasaran dan target pertumbuhan. Pencapaian target pemasaran diupayakan
agar perusahaan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya saat ini. Serta target pertumbuhan
ditetapkan dengan tujuan agar perusahaan memiliki peluang untuk tetap hidup dan
bertahan serta berkembang di masa depan.
Satu yang bisa menjadi bahan diskusi
adalah, bahwa target itu diterapkan mentah-mentah di segala industri dan
pabrikan. Konsekuensi logisnya adalah semakin sempitnya ruang yang tersedia
bagi pengembangan dan daya tampung pasar untuk output/ produksi. Mari kita
melangkah turun ke hal yang lebih nyata. Industri farmasi, misalnya, yang menjadi
target pertumbuhan mereka adalah angka penjualan obat tahun ini lebih bagus
dari tahun lalu. Bila kita kaitkan dengan fungsi dasar obat sebagai penyembuh,
dalam logika sederhana bisa diartikan bahwa mentargetkan pertumbuhan produksi
dan pemasaran obat sama halnya dengan mengharuskan pertambahan penyakit sesuai
dengan indikasi obat tersebut. So,
medicine make a disease!
Bidang
lain, otomotif misalnya. Bagi pabrikan dan merek apapun, penjualan produk
mereka (plus suku cadang dan assesoris) haruslah meningkat dari tahun ke tahun.
Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, perusahaan terancam gulung tikar. Pada saat
yang sama, volume (lebar, panjang dan jumlah) jalan menjadi alasan utama
mengapa kemacetan semakin menjadi masalah bukan saja Jakarta. Artinya bila
produk kendaraan bermotor tidak bisa dicegah sementara volume jalan relatif stagnan,
maka dengan logika obrolan warung kopi bisa dikatakan bahwa kemacetan terjadi by design!
Jawaban
dari permasalahan itu dalam kalkulasi saya tidak bisa kita lakukan dengan
mengharap kesadaran para pengusaha untuk menetapkan target pemasaran dan
pertumbuhan yang sakmadya saja. Atau meminta mereka untuk memberikan porsi sisa
yang yang lebih besar dari potongan kue yang mereka perebutkan. Logika ekonomi
mengajarkan: kalau bisa dapat banyak, ngapain ditahan. Usulan solusi atas hal
ini adalah regulasi yang jelas, tegas dalam penerapan dan ada pengawasan
serta evaluasi. Regulasi dengan cetak tebal akan menjadi salah satu kunci bagi
proses penyembuhan Indonesia. Setidaknya dalam waktu dekat kita bisa menurunkan
demam dan inflamasi yang dideritanya.
Rakyat Sing Mbeling atau Pemerintah Sing
Ndlewer
Angle ini saya dapatkan dari isteri
ketika memintanya untuk menceritakan apa yang dia rasakan saat ini sebagai
seorang Indonesia. Saya pancing dengan fluktuasi harga cabai, keheranan
menyadari betapa kedudukan jengkol disamakan dengan daging, mahalnya biaya
menyekolahkan anak dan beberapa gejala kasat mata lainnya, do’I terdiam dan hanya mengeluarkan frasa itu: sebenarnya yang
menjadikan semua ini nggak beres adalah rakyat nakal atau justru pemerintah
yang nggak bener?
Kalau
dirunut, siapapun yang menjadi pemerintah di Indonesia adalah kelompok yang
paling beruntung di dunia. Rakyat tidak pernah secara eksplisit menyatakan
penolakan, ketidaksetujuan atau pembangkangannya atas apapun yang digariskan
pemerintah bagi setiap sisi kehidupannya. Pemerintah kita harus meningkatkan
rasa syukur mereka karena rakyat yang mereka perintah(?) rakyat yang hanya
memiliki kemampuan ngerasani atau ngedumel. Kalaupun ada ekses-ekses yang tak
dikehendaki di sana-sini, percayalah lebih karena mereka tidak menemukan lawan
tanding yang sama kuat untuk klesak-klesik membicarakan pemerintah.
Kalau
demikian halnya, maka tudingan langsung mengarah pada pemerintah. Sebagai pihak
yang mendapat gaji dari kerja mereka mengurus segala hal yang berkenaan dengan
hidup rakyat dalam lingkup kehidupan bersama, pemerintah memiliki otoritas
namun seringkali tidak diikuti dengan kapabilitas. Namun naïf mengatakan bahwa
pemerintah tidak memiliki cukup kemampuan dalam menyelesaikan tugasnya. Jadi yang
paling mungkin adalah mereka melakukan segala hak sesuai “TUPOKSI” nya tidak
dengan niatan memuliakan rakyat. Melainkan lebih karena tuntutan penyelesaian
target yang tertuang dalam renstra dan rancangan kerja serta karena mereka
bekerja dengan target-target individu dan lembaga yang “bukan untuk rakyat”.
Ah,
saya juga akhirnya ndlewer. Cuma ditanya “sedang sakit apa saat ini” jawabannya
kemana-mana seolah saya bisa membantu dokter menyembuhkan sakit ini. Ada baiknya
segera saya akhiri dan persilahkan tenaga medis melanjutkan wilayah dia untuk
segera membebaskan saya dari sakit yang berkepanjangan ini.
This entry was posted
on Tuesday, June 10, 2014
at 1:02 PM
and is filed under
bangsa,
buta,
kebangsaan,
kebebasan,
kesehatan,
manipulasi,
negara,
nusantara,
peradaban,
politik,
sakit
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.