Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa Saya Sedang Sakit [bagian pertama]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , ,

Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa
Saya Sedang Sakit
Rio NS

            Anamnese sebagai satu SOP dalam penanganan penyakit oleh seorang dokter tidak jarang memunculkan satu kesulitan yang langsung menyergap ketika pasien harus menjelaskan “sedang sakit apa saya ini” karena akurasi yang membebani sehingga jawaban tersebut bisa dijadikan dasar bagi tenaga medis untuk melakukan diagnosa dan tentu saja langkah terapi pada tahap selanjutnya. Untuk itulah, pada dunia medis modern, dokter juga melihat gejala klinis dari sisi anatomi, fisologis dan bantuan diagnostik juga semakin canggih dengan menggunakan uji sample jaringan, penggunaan sinar rontgen dan olah laboratorium lainnya.
            Hal yang sama saya rasakan ketika sampai pada satu posisi dimana sebagai –atau bagian dari- pasien saya harus bisa menjelaskan dalam deskripsi yang tumata mengenai keluhan-keluhan empiris yang saya rasakan. Tulisan berikut adalah upaya saya untuk menjawab apa yang saya rasakan dalam hubungannya dengan sakitnya Indonesia –yang sejatinya adalah sakit juga, keluhan berupa nyeri, peningkatan suhu tubuh, memar, iritasi dan disfungsi organ pada Indonesia mestinya menjadi langkah awal bagi ketepatan penentuan jenis penyakit dan pengobatannya.
            Indonesia saya kenal dari dongeng sebelum tidur yang bapak dan ibu saya tembangkan saat saya masih dalam rengkuhan mereka. Seiring berjalannya usia, saya semakin mengenal Indonesia dan cinta mati padanya. Lewat aktifitas kepramukaan, transfer informasi di bangku sekolah, bacaan yang saya nikmati dan yang paling penting proses pengendapan yang berjalan menjadi keniscayaan dalam hidup saya. Namun Indonesia yang saya kenal dan saya yakini semenjak masa nina bobo itu nyatanya adalah semacam Mooy Indie yang menyesatkan. Artinya, ketika saat ini kita memperbincangkan tentang Indonesia, negeri ini bukan lagi hamparan sawah dengan padi menguning siap dipanen berhiaskan barisan gunung di belakangnya serta gonta sapi menarik pedati di jalanan tanah di sela-sela pematangnya. Indonesia bukan lagi kahanan dimana orang saling menyapa dengan panggilan akrab dan bicara lepas dalam hubungan primer yang nadanya bukanlah “loe jual gua beli”.
            Indonesia saat ini adalah sebuah negara – bila kita mendefinisikannya menurut pemahaman umum – yang kedaulatannya bisa diukur dari terus berdatangannya kontainer yang berisikan barang loakan (baju, ban, elektronik dan kondom yang semuanya berlabel bekas pakai) yang disini dijadikan komoditi laris manis. Indonesia adalah sebuah negara dimana pemimpin tertingginya adalah seorang jenderal namun menjadi sangat feminim bahkan melo. Ketika menghadapi pelecehan negara sebelah terkait penamaan sebuah kapal perang, pendudukan pulau-pulau kecil, eksploitasi warga negaranya atau penyadapan yang dilakukan dengan alas an konyol bahkan tidak logis.
            Indonesia bukan lagi negara yang “mencerdaskan kehidupan bangsa” saat mana pelajaran sekolah sangat tidak equate sehingga 85% siswa harus mengambil kelas tambahan dari lembaga-lembaga bimbingan belajar. Pada saat yan sama Indonesia membiarkan begitu saja anak-anak yang ke sekolah dengan tanpa alas kaki, buku seadanya dan belajar di ruang yang tidak dipisahkan antar kelas dan hamper ambruk. Miris ketika mendengar ada ribuan siswa yang orang tuanya bisa membayar puluhan juta agar bisa menyamakan level psikologis mereka sebagai bagian dari masyarakat internasional: berkemampuan dan bermartabat global.
            Dengan beribu maaf ke founding father saya mengajukan sebentuk hipotesa terkait komersialisasi sendi-sendi pelaksanaan syariah bagi manusia Indonesia: benarkah carut-marut pengurusan jama’ah haji, penistaan kitab suci dan pengajaran agama sebagi lahan basah bagi proyek-proyek dengan anggaran milyaran disebabkan sila pertama yang “sekedar” ketuhanan? Akankah semua ini menjadi lebih pada bentuk pengabdian negara pada rakyatnya bila sila tersebut menjadi Tuhan Yang Maha Esa?

            Sebelum tulisan ini jatuh menjadi sebuah curahan hati yang sering dilakukan resmi oleh presiden saya, ijinkan saya juga mengingatkan kembali betapa Indonesia adalah entitas modern yang tingkat peradabannya sungguh tak terperi manakala orang-orang sakit dari kalangan tak berpunya harus rela ditolak dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya dan menemui ajal tanpa penanganan yang semestinya. Namun cerita ini menjadi satire manakala tak sedikit mereka yang datang ke rumah sakit dengan mobil pribadi, mengenakan baju bermerk dan menggenggam gadget keluaran terbaru namun membawa kelengkapan dan minta dilayani sebagai pasien miskin. Cerita akan semakin miris menyaksikan betapa mereka bersikeras untuk bisa mendapatkan fasilitas itu dan dibantu dengan katabelece bahkan kehadiran fisik saudara atau rekanan yang punya posisi di pemerintahan atau parlemen.

[bersambung Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa Saya Sedang Sakit bagian kedua]

This entry was posted on Monday, June 9, 2014 at 4:08 PM and is filed under , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment