Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa
Saya Sedang Sakit
Rio NS
Anamnese
sebagai satu SOP dalam penanganan penyakit oleh seorang dokter tidak jarang
memunculkan satu kesulitan yang langsung menyergap ketika pasien harus
menjelaskan “sedang sakit apa saya ini” karena akurasi yang membebani sehingga
jawaban tersebut bisa dijadikan dasar bagi tenaga medis untuk melakukan
diagnosa dan tentu saja langkah terapi pada tahap selanjutnya. Untuk itulah,
pada dunia medis modern, dokter juga melihat gejala klinis dari sisi anatomi,
fisologis dan bantuan diagnostik juga semakin canggih dengan menggunakan uji
sample jaringan, penggunaan sinar rontgen dan olah laboratorium lainnya.
Hal yang
sama saya rasakan ketika sampai pada satu posisi dimana sebagai –atau bagian
dari- pasien saya harus bisa menjelaskan dalam deskripsi yang tumata mengenai
keluhan-keluhan empiris yang saya rasakan. Tulisan berikut adalah upaya saya
untuk menjawab apa yang saya rasakan dalam hubungannya dengan sakitnya
Indonesia –yang sejatinya adalah sakit juga, keluhan berupa nyeri, peningkatan
suhu tubuh, memar, iritasi dan disfungsi organ pada Indonesia mestinya menjadi
langkah awal bagi ketepatan penentuan jenis penyakit dan pengobatannya.
Indonesia
saya kenal dari dongeng sebelum tidur yang bapak dan ibu saya tembangkan saat
saya masih dalam rengkuhan mereka. Seiring berjalannya usia, saya semakin
mengenal Indonesia dan cinta mati padanya. Lewat aktifitas kepramukaan,
transfer informasi di bangku sekolah, bacaan yang saya nikmati dan yang paling
penting proses pengendapan yang berjalan menjadi keniscayaan dalam hidup saya. Namun
Indonesia yang saya kenal dan saya yakini semenjak masa nina bobo itu nyatanya
adalah semacam Mooy Indie yang menyesatkan. Artinya, ketika saat ini kita
memperbincangkan tentang Indonesia, negeri ini bukan lagi hamparan sawah dengan
padi menguning siap dipanen berhiaskan barisan gunung di belakangnya serta
gonta sapi menarik pedati di jalanan tanah di sela-sela pematangnya. Indonesia bukan
lagi kahanan dimana orang saling menyapa dengan panggilan akrab dan bicara
lepas dalam hubungan primer yang nadanya bukanlah “loe jual gua beli”.
Indonesia
saat ini adalah sebuah negara – bila kita mendefinisikannya menurut pemahaman
umum – yang kedaulatannya bisa diukur dari terus berdatangannya kontainer yang
berisikan barang loakan (baju, ban, elektronik dan kondom yang semuanya
berlabel bekas pakai) yang disini dijadikan komoditi laris manis. Indonesia adalah
sebuah negara dimana pemimpin tertingginya adalah seorang jenderal namun
menjadi sangat feminim bahkan melo. Ketika menghadapi pelecehan negara sebelah
terkait penamaan sebuah kapal perang, pendudukan pulau-pulau kecil, eksploitasi
warga negaranya atau penyadapan yang dilakukan dengan alas an konyol bahkan
tidak logis.
Indonesia
bukan lagi negara yang “mencerdaskan kehidupan bangsa” saat mana pelajaran
sekolah sangat tidak equate sehingga 85% siswa harus mengambil kelas tambahan
dari lembaga-lembaga bimbingan belajar. Pada saat yan sama Indonesia membiarkan
begitu saja anak-anak yang ke sekolah dengan tanpa alas kaki, buku seadanya dan
belajar di ruang yang tidak dipisahkan antar kelas dan hamper ambruk. Miris ketika
mendengar ada ribuan siswa yang orang tuanya bisa membayar puluhan juta agar
bisa menyamakan level psikologis mereka sebagai bagian dari masyarakat
internasional: berkemampuan dan bermartabat global.
Dengan
beribu maaf ke founding father saya mengajukan sebentuk hipotesa terkait
komersialisasi sendi-sendi pelaksanaan syariah bagi manusia Indonesia: benarkah
carut-marut pengurusan jama’ah haji, penistaan kitab suci dan pengajaran agama
sebagi lahan basah bagi proyek-proyek dengan anggaran milyaran disebabkan sila
pertama yang “sekedar” ketuhanan? Akankah semua ini menjadi lebih pada bentuk
pengabdian negara pada rakyatnya bila sila tersebut menjadi Tuhan Yang Maha
Esa?
Sebelum
tulisan ini jatuh menjadi sebuah curahan hati yang sering dilakukan resmi oleh
presiden saya, ijinkan saya juga mengingatkan kembali betapa Indonesia adalah
entitas modern yang tingkat peradabannya sungguh tak terperi manakala
orang-orang sakit dari kalangan tak berpunya harus rela ditolak dari satu rumah
sakit ke rumah sakit lainnya dan menemui ajal tanpa penanganan yang semestinya.
Namun cerita ini menjadi satire manakala tak sedikit mereka yang datang ke
rumah sakit dengan mobil pribadi, mengenakan baju bermerk dan menggenggam
gadget keluaran terbaru namun membawa kelengkapan dan minta dilayani sebagai
pasien miskin. Cerita akan semakin miris menyaksikan betapa mereka bersikeras
untuk bisa mendapatkan fasilitas itu dan dibantu dengan katabelece bahkan
kehadiran fisik saudara atau rekanan yang punya posisi di pemerintahan atau
parlemen.
[bersambung Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa Saya Sedang Sakit bagian kedua]
[bersambung Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa Saya Sedang Sakit bagian kedua]