sambungan dari Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Ketiga]
Yang Bertahan dalam
Pusaran Konflik
Sebagai sebuah
produk kebudayaan, Banawa Sekar adalah buah pikir yang lahir dimasa krisis. Perangkat
itu dimunculkan oleh golongan-golongan yang masih bertahan di tengah disorientasi
sosial-politik Majapahit. Saat negeri itu di ambang keruntuhan, terdapat
unit-unit masyarakat yang tidak turut terseret pada kericuhan-kericuhan. Mereka
adalah lingkungan kecil yang berada di jarak yang jauh dari pusat pemerintahan
Majapahit. Unit-unit ini terlatih untuk mandiri dan tidak terpengaruh akan
imbas buruk konflik-konflik elit yang tengah dialami Majapahit. Unit sosial
tersebut adalah wanua dan mandala. Dalam istilah lain, keduanya bisa disebut
sebagai unit-unit penyitas krisis.
Wanua merupakan istilah yang diterapkan untuk menunjuk
tipe masa desa Jawa Tengah dan Jawa Timur dari masa Mataram Kuno atau bahkan
sebelumnya. Kan kata ini menyebar luas di wilayah kepulauan yang sekarang
disebut Indonesia. Dalam prasasti-prasasti semasa Mataram Kuno, kata itu
mempunyai konteks arti “kelompok” dan arti itu rupanya dapat dihubungkan dengan
kata khmer kuno “vnvak” yang juga mempunyai arti kelompok. Prasasti kedukan
bukit pada abad ke-7 di Sumatera Selatan menempatkan kata wanua dengan arti “wilayah
yang sudah ditempati atau diadabkan”. Karakteristik wanua adalah kawasan
mandiri di kedalaman pulau, yang memenuhi kebutuhan sendiri. Wanua bukanlah sebuah
tempat hasil koloni dari kelompok sosial yang lebih besar. Kesatuan kolektif
ini lahir dari konsensus sekelompok orang yang menjalin ikatan sosialnya
melalui norma-norma kekeluargaan dan gotong royong yang lekat. Dalam struktur
administrasi politik Majapahit, wanua ditempatkan sebagai unit terbawah yang
dikepalai oleh seorang thani atau tuha wanua. Warga sendiri disebut sebagai
anak wanua.
Pada peta kebudayaan Majapahit, Wanua merupakan titik
penting bagi tumbuhnya “kebudayaan kecil”, berhadap-hadapan dengan “kebudayaan
besar” yang ditebarkan negara.dalam hubungan pengaruh, negara sebagai wilayah administrative
yang emluaskan kekuasaan politiknya, mempengaruhi wanua. Negara yang menguasai
pengetahuan internasional kemudian mempengaruhi wilayah wanua yang mandiri
secara kebudayaan. Lewat pelabuhan-pelabuhan dan kota-kota,
pengetahuan-pengetahuan baru, hasil interaksi internasional, masuk ke Majapahit
dalam kemasan aslinya. Seiring waktu, wanua-wanua menerima rembesan pengetahuan
itu. Disebabkan oleh karakter kemandirian budayanya, wanua-wanua itu tak
menelan mentah-mentah terhadap apa yang datang. Mereka lantas mengawinkannya
dengan nilai-nilai pribumi. Akulturasi dua kebudayaan pun terjadi. Semakin jauh
jarak wilayah wanua degan pusat kekuasaan maka, kian leluasalah mereka
mencampur nilai itu hingga lebih kuat dan menonjol nilai lokalnya.
Proses akulturasi tersebut terjadi dalam penyebaran
agama Hindu dari India. Pola-pola sinkretisme religious lebih banyak terdapat
di pedalaman. Kawasan pesisir yang lebih dinamis tidak sempat mengolah pengetahuan-pengetahuan
yang masuk. Maka ketika agama-agama tersebut datang ke Majapahit, penduduk di
kawasan itu lebih banyak menerimanya mentah-mentah, hingga cenderung puritan. Begitu
pula yang terjadi ketika Islam memasuki Majapahit. Islam yang dibawa oleh
pelancong Tiongkok, Gujarat, Persia, serta Arab melalui pelabuhan di pesisir,
diterima dalam kemasan yang belum membumi dengan wilayah setempat. Baru setelah
masuk ke pedalaman, sentuhan-sentuhan akulturatif dilakukan oleh wanua-wanua,
hingga lahirlah ajaran-ajaran yang memiliki, aroma kebudayaan lokal yang
kental.
Sewaktu Majapahit tenggelam dalam kekeruhan di paruh
kedua abad 14, wanua-wanua itu berperan penting dalam menjaga nilai-nilai keluhuran
asli yang telah mengakar sedemikian lama. Mereka tetap bisa bertahan tanpa
turut hanyut dalam pusaran konflik kerajaan. Kemandirian ekonomi dan
kreatifitas cultural yang mumpuni dalam mengolah pengaruh-pengaruh yang masuk
ke wilayahnya, adalah kunci dari wanua-wanua tersebut sehingga bisa terus tegak
arus perubahan. Konsep upacara Banawa Sekar adalah salah satu hasil dari
sentuhan akulturatif unit-unit wanua tersebut. Sebuah ritual dengan pranata
nilai yang kuat unsur lokalnya. Di kemudian hari, mentalitas wanua yang serba
mandiri inilah yang merintis peradaban lain, setelah Majapahit benar-benar
tenggelam.
Unit kedua yang tetap tegak saat Majapahit sedang
goyah adalah mandala. Semasa itu, istilah mandala akrab digunakan dalam dua
maksud. Yang pertama adalah, mandala yang bermakna liga raja-raja atau
persatuan kekuasaan politik. Kumpulan kerajaan-kerajaan bawahan yang tunduk
pada satu pusat kekuasaan yaitu Majapahit. Sedang makna mandala yang kedua
adalah, lingkungan pertapaan yang dilengkapi dengan asrama (pasraman),
berfungsi sebagai tempat tinggal siswa yang beguru pada orang suci. Mandala dengan
makna yang terakhir itulah yang dimaksud dalam konteks tulisan ini.
Setidaknya, terdapat 200 mandala di Jawa menjelang Majapahit
jatuh. Selain sebagai istitusi pendidikan, mandala juga memiliki peran penting
dalam memelihara nilai-nilai keluhuran di tengah carut-marutnya situasi. Lingkungan
mandala ini berisi para tapa yang berkumpul di asrama-asrama hindhu-buddha jawa
yang mengajari teknik-teknik “Asketisme”, sumpah-sumpah agama dan meditasi,
yang digabungkan demi keselamatan dunia,
tetapi juga melaksanakan teknik-teknik tersebut di hutan-hutan,
puncak-puncak perbukitan, dan tempat-tempat suci di pulau jawa. Sedikit banyak,
keberadaan mandala juga berpengaruh secara psikologis terhadap masyarakat di
pedalaman Majapahit, dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir saat penguasa
pesat tak lagi menghiraukan kemuliaan hakiki yang terkandung dalam
ajaran-ajaran agama. Hembusan nilai-nilai spiritualitas dari mandala-mandala
itu turut urun saham dalam memberi napas spiritualitas yang membumi pada
fenomena Banawa Sekar.
Seiring perjalanan waktu, para wali penyebar agama
Islam mempergunakan konsep manda ini sebagai institusi dakwah dan pendidikan
dengan nama pesantren. Sebuaha akulturasi budaya yang pada perkembangannya
membawa pesantren sebagai lembaga keagamaan yang akrab dengan nilai-nilai asli
pribumi. Mandala adalah salah satu komponen yang tetap berdiri melintasi zaman,
tidak terpengaruh oleh konflik-konflik politk, meskipun imperium besar yang
pernah menaunginya hancur berkeping-keping.
Apabila digabungkan antara wanua dan mandala, keduanya
bisa dibayangkan dalam metafor perahu dan bunga. Satu sama lain saling menopang
dan melengkapi.wanua bisa berlaku layaknya kapal yang membawa mandala yang
diibaratkan sebagai aneka ragam kembang. Komunitas mandiri yang bisa menampung
ide-ide perubahan tetapi tak melepas spirit luhur dari nilai-nilai tradisi dan
agama. Kedua unit penyitas itu, jika dipadukan akan membentuk himpunan kokoh
yang bisa melintasi masa krisis akut, untuk menghindari kehancuran total. Layaknya
kapal bunga yang bisa bertahan ditengah gelombang untuk berlayar menuju alam
kesucian.
[bersambung ke bagian kelima...]
[bersambung ke bagian kelima...]
This entry was posted
on Thursday, June 5, 2014
at 11:48 AM
and is filed under
banawa,
bunga,
kebangsaan,
leluhur,
maiyah,
majapahit,
nusantara,
penghormatan,
politik,
sekar,
upacara
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.