Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Keempat]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

sambungan dari Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Ketiga]


Yang Bertahan dalam Pusaran Konflik
 Sebagai sebuah produk kebudayaan, Banawa Sekar adalah buah pikir yang lahir dimasa krisis. Perangkat itu dimunculkan oleh golongan-golongan yang masih bertahan di tengah disorientasi sosial-politik Majapahit. Saat negeri itu di ambang keruntuhan, terdapat unit-unit masyarakat yang tidak turut terseret pada kericuhan-kericuhan. Mereka adalah lingkungan kecil yang berada di jarak yang jauh dari pusat pemerintahan Majapahit. Unit-unit ini terlatih untuk mandiri dan tidak terpengaruh akan imbas buruk konflik-konflik elit yang tengah dialami Majapahit. Unit sosial tersebut adalah wanua dan mandala. Dalam istilah lain, keduanya bisa disebut sebagai unit-unit penyitas krisis.
Wanua merupakan istilah yang diterapkan untuk menunjuk tipe masa desa Jawa Tengah dan Jawa Timur dari masa Mataram Kuno atau bahkan sebelumnya. Kan kata ini menyebar luas di wilayah kepulauan yang sekarang disebut Indonesia. Dalam prasasti-prasasti semasa Mataram Kuno, kata itu mempunyai konteks arti “kelompok” dan arti itu rupanya dapat dihubungkan dengan kata khmer kuno “vnvak” yang juga mempunyai arti kelompok. Prasasti kedukan bukit pada abad ke-7 di Sumatera Selatan menempatkan kata wanua dengan arti “wilayah yang sudah ditempati atau diadabkan”. Karakteristik wanua adalah kawasan mandiri di kedalaman pulau, yang memenuhi kebutuhan sendiri. Wanua bukanlah sebuah tempat hasil koloni dari kelompok sosial yang lebih besar. Kesatuan kolektif ini lahir dari konsensus sekelompok orang yang menjalin ikatan sosialnya melalui norma-norma kekeluargaan dan gotong royong yang lekat. Dalam struktur administrasi politik Majapahit, wanua ditempatkan sebagai unit terbawah yang dikepalai oleh seorang thani atau tuha wanua. Warga sendiri disebut sebagai anak wanua.
Pada peta kebudayaan Majapahit, Wanua merupakan titik penting bagi tumbuhnya “kebudayaan kecil”, berhadap-hadapan dengan “kebudayaan besar” yang ditebarkan negara.dalam hubungan pengaruh, negara sebagai wilayah administrative yang emluaskan kekuasaan politiknya, mempengaruhi wanua. Negara yang menguasai pengetahuan internasional kemudian mempengaruhi wilayah wanua yang mandiri secara kebudayaan. Lewat pelabuhan-pelabuhan dan kota-kota, pengetahuan-pengetahuan baru, hasil interaksi internasional, masuk ke Majapahit dalam kemasan aslinya. Seiring waktu, wanua-wanua menerima rembesan pengetahuan itu. Disebabkan oleh karakter kemandirian budayanya, wanua-wanua itu tak menelan mentah-mentah terhadap apa yang datang. Mereka lantas mengawinkannya dengan nilai-nilai pribumi. Akulturasi dua kebudayaan pun terjadi. Semakin jauh jarak wilayah wanua degan pusat kekuasaan maka, kian leluasalah mereka mencampur nilai itu hingga lebih kuat dan menonjol nilai lokalnya.
Proses akulturasi tersebut terjadi dalam penyebaran agama Hindu dari India. Pola-pola sinkretisme religious lebih banyak terdapat di pedalaman. Kawasan pesisir yang lebih dinamis tidak sempat mengolah pengetahuan-pengetahuan yang masuk. Maka ketika agama-agama tersebut datang ke Majapahit, penduduk di kawasan itu lebih banyak menerimanya mentah-mentah, hingga cenderung puritan. Begitu pula yang terjadi ketika Islam memasuki Majapahit. Islam yang dibawa oleh pelancong Tiongkok, Gujarat, Persia, serta Arab melalui pelabuhan di pesisir, diterima dalam kemasan yang belum membumi dengan wilayah setempat. Baru setelah masuk ke pedalaman, sentuhan-sentuhan akulturatif dilakukan oleh wanua-wanua, hingga lahirlah ajaran-ajaran yang memiliki, aroma kebudayaan lokal yang kental.
Sewaktu Majapahit tenggelam dalam kekeruhan di paruh kedua abad 14, wanua-wanua itu berperan penting dalam menjaga nilai-nilai keluhuran asli yang telah mengakar sedemikian lama. Mereka tetap bisa bertahan tanpa turut hanyut dalam pusaran konflik kerajaan. Kemandirian ekonomi dan kreatifitas cultural yang mumpuni dalam mengolah pengaruh-pengaruh yang masuk ke wilayahnya, adalah kunci dari wanua-wanua tersebut sehingga bisa terus tegak arus perubahan. Konsep upacara Banawa Sekar adalah salah satu hasil dari sentuhan akulturatif unit-unit wanua tersebut. Sebuah ritual dengan pranata nilai yang kuat unsur lokalnya. Di kemudian hari, mentalitas wanua yang serba mandiri inilah yang merintis peradaban lain, setelah Majapahit benar-benar tenggelam.
Unit kedua yang tetap tegak saat Majapahit sedang goyah adalah mandala. Semasa itu, istilah mandala akrab digunakan dalam dua maksud. Yang pertama adalah, mandala yang bermakna liga raja-raja atau persatuan kekuasaan politik. Kumpulan kerajaan-kerajaan bawahan yang tunduk pada satu pusat kekuasaan yaitu Majapahit. Sedang makna mandala yang kedua adalah, lingkungan pertapaan yang dilengkapi dengan asrama (pasraman), berfungsi sebagai tempat tinggal siswa yang beguru pada orang suci. Mandala dengan makna yang terakhir itulah yang dimaksud dalam konteks tulisan ini.
Setidaknya, terdapat 200 mandala di Jawa menjelang Majapahit jatuh. Selain sebagai istitusi pendidikan, mandala juga memiliki peran penting dalam memelihara nilai-nilai keluhuran di tengah carut-marutnya situasi. Lingkungan mandala ini berisi para tapa yang berkumpul di asrama-asrama hindhu-buddha jawa yang mengajari teknik-teknik “Asketisme”, sumpah-sumpah agama dan meditasi, yang digabungkan demi keselamatan dunia,  tetapi juga melaksanakan teknik-teknik tersebut di hutan-hutan, puncak-puncak perbukitan, dan tempat-tempat suci di pulau jawa. Sedikit banyak, keberadaan mandala juga berpengaruh secara psikologis terhadap masyarakat di pedalaman Majapahit, dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir saat penguasa pesat tak lagi menghiraukan kemuliaan hakiki yang terkandung dalam ajaran-ajaran agama. Hembusan nilai-nilai spiritualitas dari mandala-mandala itu turut urun saham dalam memberi napas spiritualitas yang membumi pada fenomena Banawa Sekar.
Seiring perjalanan waktu, para wali penyebar agama Islam mempergunakan konsep manda ini sebagai institusi dakwah dan pendidikan dengan nama pesantren. Sebuaha akulturasi budaya yang pada perkembangannya membawa pesantren sebagai lembaga keagamaan yang akrab dengan nilai-nilai asli pribumi. Mandala adalah salah satu komponen yang tetap berdiri melintasi zaman, tidak terpengaruh oleh konflik-konflik politk, meskipun imperium besar yang pernah menaunginya hancur berkeping-keping.

Apabila digabungkan antara wanua dan mandala, keduanya bisa dibayangkan dalam metafor perahu dan bunga. Satu sama lain saling menopang dan melengkapi.wanua bisa berlaku layaknya kapal yang membawa mandala yang diibaratkan sebagai aneka ragam kembang. Komunitas mandiri yang bisa menampung ide-ide perubahan tetapi tak melepas spirit luhur dari nilai-nilai tradisi dan agama. Kedua unit penyitas itu, jika dipadukan akan membentuk himpunan kokoh yang bisa melintasi masa krisis akut, untuk menghindari kehancuran total. Layaknya kapal bunga yang bisa bertahan ditengah gelombang untuk berlayar menuju alam kesucian.


[bersambung ke bagian kelima...]

This entry was posted on Thursday, June 5, 2014 at 11:48 AM and is filed under , , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment