Showing posts with label politik. Show all posts

Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian kedua)  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , , , ,

[sambungan Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian pertama)]


Sumpek, buntu, dan absurd.
            Baiklah, sekarang kita kembali saja kea lam, kembali tetirah ke pegunungan dan lembah, dimana kendaraan-kendaraan besar dan alat berat sedang “mensyukuri” nikmat Tuhan berupa ala mini, dengan menghabiskan sumber daya alam, yang disediakan oleh alam lewat rentangan berabad-abad lamanya. Yang keserakahan kita saat ini, menghabiskannya dalam hitungan bersin saja. Ketika ia akan ditambang, diumumkan bahwa hasilnya akan menetes ke setiap telapak tangan seluruh rakyat yang tengadah. Dan sekarang ketika hasilnya sudah akan habis; rakyat tetap menadahkan tangan, menunggu. Tapi yang jatuh di tadahan tangannya adalah janji, janji dan janji. Paradox of Plenty.

Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian pertama)  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

Banawa Sekar
Sebuah Ungkapan Zaman


            Sebuah pesta besar demokrasi baru saja usai. Pemilihan umum, demikianlah namanya. Mempersaksikan bagaimana bangsa ini menyelenggarakannya sungguh membahagiakan. Tengoklah bagaimana KPU membelanjakan anggaran, memborong lembaran kertas suara, kotak suara, dan mendistribusikannya ke setiap jengkal mimpi rakyat. Sungguh sebuah pengorbanan tiada tara. Kenanglah bagaimana sejenis spesies bernama golput, si anak haram demokrasi, begitu ditakuti. Resapilah juga pengorbanan parpol & caleg-caleg yang menyediakan dirinya untuk memikirkan nasib sekian puluh juta saudaranya. Setidaknya untuk 5 tahun kedepan. Ia sebuah pesta bukan? Maka begitulah adanya TPS-TPS, dihiasi sedemikian laksana sebuah resepsi. Sebab pemilu adalah titik penting. Satu hari yang konon kata KPU, menentukan nasib bangsa selama 5 tahun kedepan. Lalu, bagaimana 5 tahun setelahnya? Ya tunggu pesta berikutnya. Toh, usia masa depan “hanya” sejengkal waktu berdurasi 5 tahun. “Sependek” jalan raya Anyer – Panarukan yang (katanya) dibangun Daendels.

Surealisme Indonesia  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

Surealisme Indonesia

Syahdan, suatu sore lebih dari setengah abad yangb lalu. Syaikh Muhammadn Salthut baru saja berjalan-jaln di suatu tempat di Pulau Jawa. Sepanjang perjalanan, Grand Syaikh Al Azhar itu berdesir darahnya. Setiap detik sepanjang hidupnya, Syaikh hanya menyaksikan Mesir yang bergurun seperti lautan pasir yang tidak berakhir. Namun kali ini, Syaikh menyaksikan pepohonan yang rimbun penuh dengan buah yang menggugah selera, sungai-sungai mengalir di bawahnya serta tanah yang subur ditumbuhi rerumputan. Persis seperti gambaran surga yang senantiasa Syaikh baca dari Al Qur’an. Dalam keterpesonaan, Syaikh Salthut –ulama besar yang menguasai segala ilmu itu- bergumam: Negeri inim sungguh seperti surga yang jatuh ke bumi. Rector Universitas Al Azhar itu mengaburkan batas antara kenyataan dan imaji. Kenyataan dan imaji pun saling berpeluk berkelindan. Mana yang nyata, mana yang imaji, tidak tegas lagi.

Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian kedua)  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

[sambungan Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian pertama)]



Ironi Sebuah Negeri dengan Aneka Potensi
            Nusantara sebuah negeri kaya raya dengan keunggulan yang secara komparatif sulit dicarikan bandingannya di negeri manapun di dunia ini termasuk dalam hal keindahannya atau sebagaimana diibaratkan oleh Mpu Tanakung sebagai bahtera (perahu besar) sebagai lambang perjalanan kehidupan warga bangsa dengan aneka bunga nan indah di dalamnya, ternyata kembali di era ini tidak kunjung membuat sadar para elit akan potensi kebesaran yang bisa diraih bangsa dan negerinya.

Bahtera Seribu Aneka Bunga  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

Bahtera Seribu Aneka Bunga
Upaya untuk Menggugah Kesadaran akan Potensi sebagai Bangsa Besar

Oleh: Achmad Rifai*

“Aku meninggalkan Jelitaku dahulu di peraduan, bukan karena aku lupa indahnya peraduan asmara, namun karena hasratku yang tak tertahankan untuk melukiskan keindahan tanah air” (Mpu Tanakung)

La Indonesia illa Nusantara  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , , , , , ,

La Indonesia illa Nusantara

9.1

Orang-orang Maiyah menangis hanya kepada Allah
Tidak kepada siapa dan apapun lainnya
Orang-orang Maiyah mensujudkan tangisnya
Di sajadah airmata Muhammad Imam tunggal kehidupannya
Sajadah airmata Rasulullah menjadi sungai panjang kerinduan
Mengalir menuju ufuk kesejatian dan keabadian
Mengalir hingga melampaui cakrawala akhir zaman
Sampai akhirnya menguap menghampa Di Sidratil Muntaha pesta sunyi rahasia

Saya Sakit dan Tak Sadar Bahwa Saya Sedang Sakit [bagian kedua]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,


Regulasi Sebagai Sebuah Analgesik & Anti Inflamasi
            Sekian tahun bergabung di sebuah korporasi global, mengajarkan kepada saya bahwa kehidupan sebuah perusahaan ditopang dari dua hal utama yaitu tercapainya target pemasaran dan target pertumbuhan. Pencapaian target pemasaran diupayakan agar perusahaan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya saat ini. Serta target pertumbuhan ditetapkan dengan tujuan agar perusahaan memiliki peluang untuk tetap hidup dan bertahan serta berkembang di masa depan.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Kelima]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,




Maiyah Sebagai Bahtera Kebangsaan
Secara simulatif, konstelasi politik di Indonesia pasca pemilu legislatif dan menjelang pemilihan presiden 2014 sudah bisa dibayangkan keruwetannya. Siapapun presiden yang terpilih akan mewarisi kompleksitas persoalan dari pendahulunya. Situasi parlemenpun akan menghadapi perkara yang sama. Baik itu mengenai perilaku anggota-anggotanya maupun mutu pada hasil-hasil kerjanya. Rakyat akan tetap berlaku sebagai obyek penderita yang terabaikan kesejahteraanya. Situasi adu kuat dan saling sandera kepentingan antar golongan masih terus berlangsung, seperti tampak di panggung politik Indonesia dewasa ini. Kondisi demikian akan terjadi, dengan catatan: semua pemegang kekuasaan tidak mau merevolusi dirinya sendiri.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Keempat]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

sambungan dari Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Ketiga]


Yang Bertahan dalam Pusaran Konflik
 Sebagai sebuah produk kebudayaan, Banawa Sekar adalah buah pikir yang lahir dimasa krisis. Perangkat itu dimunculkan oleh golongan-golongan yang masih bertahan di tengah disorientasi sosial-politik Majapahit. Saat negeri itu di ambang keruntuhan, terdapat unit-unit masyarakat yang tidak turut terseret pada kericuhan-kericuhan. Mereka adalah lingkungan kecil yang berada di jarak yang jauh dari pusat pemerintahan Majapahit. Unit-unit ini terlatih untuk mandiri dan tidak terpengaruh akan imbas buruk konflik-konflik elit yang tengah dialami Majapahit. Unit sosial tersebut adalah wanua dan mandala. Dalam istilah lain, keduanya bisa disebut sebagai unit-unit penyitas krisis.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Kedua]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

Berkaca Kepada Masa Lalu

            Menjelang keruntuhannya, Majapahit kayaknya berada dalam rerimbunan yang menggiriskan.kegelisahan rakyat menjalar, saat menyaksikan pertikaian para petinggi istana. Intrik politik berseliweran, kasak-kusuk antara para pejabat meluncur saling menjatuhkan. Sepeninggal Hayam Wuruk yang mangkat tahun 1389, percik-percik kehancuran mulai terlihat di tubuh imperium itu. Patih amangkubhumi Gajah Mada  sendiri telah wafat 25 tahun sebelum sang prabhu.

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Pertama]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , ,

BANAWA MAIYAH, SEKAR KEBANGSAAN
Erik Supit

            Topik sejarah mengenai masa-masa akhir Majapahit tak habis-habis untuk dibicarakan. Kejatuhannya yang tragis, menyimpan pelajaran besar. Imperium raksasa tumbuh dengan percaya diri tersebut, pada akhirnya mesti bertekuk lutut dengan perubahan zaman. Banyak faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan itu. Semuanya jalin-menjalin membentuk pola yang saling mempengaruhi dan berhubungan sebab akibat.