[sambungan Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian pertama)]
Sumpek, buntu, dan absurd.
Baiklah,
sekarang kita kembali saja kea lam, kembali tetirah
ke pegunungan dan lembah, dimana kendaraan-kendaraan besar dan alat berat
sedang “mensyukuri” nikmat Tuhan berupa ala mini, dengan menghabiskan sumber
daya alam, yang disediakan oleh alam lewat rentangan berabad-abad lamanya. Yang
keserakahan kita saat ini, menghabiskannya dalam hitungan bersin saja. Ketika
ia akan ditambang, diumumkan bahwa hasilnya akan menetes ke setiap telapak
tangan seluruh rakyat yang tengadah. Dan sekarang ketika hasilnya sudah akan
habis; rakyat tetap menadahkan tangan, menunggu. Tapi yang jatuh di tadahan
tangannya adalah janji, janji dan janji. Paradox
of Plenty.
Kalaupun
ada yang kebagian, pasti itu bukan rakyat. Ia adalah masyarakat atau warga
negara. Lho memangnya apa beda antara rakyat, masyarakat, dan warga negara?
Bedanya ialah sama dengan bedanya antara Pemerintah dan Negara. Kalau ia sama
saja, pun demikian juga rakyat, masyarakat &warga negara. Maka inilah
balada sebuah bangsa yang tak pernah sungguh-sungguh merumuskan apa itu Negara,
Pemerintah, Rakyat, Masyarakat, Warga Negara. Yang kehilangan seluruh perangkat
mengukur kahanan. Kemuliaan diukur
dengan kepemilikan. Eksistensi direntang dengan keterkenalan. Kesuksesan
dimampatkan dalam wadah dan jarak sekedipan mata. Dan lebih hebatnya lagi,
semuanya berjalan sebagaimana biasanya, sambil berwirid menghibur diri – Aku Ra Popo.
Apatis? Putus asa?
Mungkin. Tapi satu yang pasti, jauh di dasar
sanubarinya, di sebuah kegelapan yang pekat dalam nuraninya, selalu ada saja
redup cahaya lirih. Ialah mimpi dan titik di masa depan dimana
adik-anak-cucunya mengalami kecemerlangan, kemuliaan, kesejahteraan, keadilan.
Apatis? Putus asa?
Ya,
sampai aku menemukan sekuntum senyum dan harapan bernama Nusantara Raya.
Kutemukan ia tidak dari masa silam, melainkan dari masa depan. Ia diperkenankan
selintas-selintas menggoda kemanusiaanku, menggelitik kesadaran terdalamku
bahwa akulah manusia Nusantara. Nusantara, sebuah bentangan integral samudera
dan gugusan pulau. Setiap gugus pulaunya adalah kebanggan dan martabat,
sementara samudera member jarak antar kebanggan itu, menjaganya agar tak
melambung menjadi kesombongan. Dan mustahil untuk bisa menjelajahi samudera,
berbantalkan obak dan berselimut angin, tanpa perahu.
Ya,
perahu. Banawa. Bukan perahu sembarang perahu, tetapi Banawa Sekar, bahtera
bunga kebersamaan. Ia harus dibuat dari sekar yang dipetik dari masing-masing
gugus pulau yang ada. Sebab samudera dan gugus pulau itu adalah satu, menyatu,
kebersatuan, berbeda tetapi satu jua. Mitreka
satata, Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Banawa Sekar adalah
satu-satunya kemungkinan mengarungi samudera peradaban global yang makin
mencengkeram bumi.
Banawa
Sekar adalah konsep dasar agro-maritim, sekaligus maritim-agro. Menyatukan
tanah dan air, menjadi satu: tanah air. Dari tanah kau Kuciptakan, dan
Kuhidupkan segala sesuatunya dari air; demikian sabda.
***
Perlahan
namun pasti, semesta sedang menghembuskan anginnya, mengangkat timbunan pasir
dan tanah kerakusan penghuni Indonesia saat ini. Sedikit demi sedikit
memunculkan kembali kebesaran Nusantara yang (mungkin) sengaja ditimbun agar
ada yang sungguh-sungguh belajar, titen,
iqra’ dan membuktikan kesetiaannya. Tinggal kita melalui Maiyah, beristiqomah –bistiqomati ma’iyyatina- melalui setiap
rakaat shalat kebangsaan ini, mensucikan diri layak dan dipercaya mengemban
amanah Nusantara Rayya.
Dan
aku sendiri, ijinkan menjadi ma’mum Simbah Maulana Muhammad Ainun Nadjib,
perlahan mengikrarkan “syahadat kebangsaan”: laa Indonesia illa Nusantara
Acang
Sumenep – Tarik – Trowulan | purnama Rajab 1435 H