Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian kedua)  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , , , ,

[sambungan Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian pertama)]


Sumpek, buntu, dan absurd.
            Baiklah, sekarang kita kembali saja kea lam, kembali tetirah ke pegunungan dan lembah, dimana kendaraan-kendaraan besar dan alat berat sedang “mensyukuri” nikmat Tuhan berupa ala mini, dengan menghabiskan sumber daya alam, yang disediakan oleh alam lewat rentangan berabad-abad lamanya. Yang keserakahan kita saat ini, menghabiskannya dalam hitungan bersin saja. Ketika ia akan ditambang, diumumkan bahwa hasilnya akan menetes ke setiap telapak tangan seluruh rakyat yang tengadah. Dan sekarang ketika hasilnya sudah akan habis; rakyat tetap menadahkan tangan, menunggu. Tapi yang jatuh di tadahan tangannya adalah janji, janji dan janji. Paradox of Plenty.

            Kalaupun ada yang kebagian, pasti itu bukan rakyat. Ia adalah masyarakat atau warga negara. Lho memangnya apa beda antara rakyat, masyarakat, dan warga negara? Bedanya ialah sama dengan bedanya antara Pemerintah dan Negara. Kalau ia sama saja, pun demikian juga rakyat, masyarakat &warga negara. Maka inilah balada sebuah bangsa yang tak pernah sungguh-sungguh merumuskan apa itu Negara, Pemerintah, Rakyat, Masyarakat, Warga Negara. Yang kehilangan seluruh perangkat mengukur kahanan. Kemuliaan diukur dengan kepemilikan. Eksistensi direntang dengan keterkenalan. Kesuksesan dimampatkan dalam wadah dan jarak sekedipan mata. Dan lebih hebatnya lagi, semuanya berjalan sebagaimana biasanya, sambil berwirid menghibur diri – Aku Ra Popo.
Apatis? Putus asa?
            Mungkin. Tapi satu yang pasti, jauh di dasar sanubarinya, di sebuah kegelapan yang pekat dalam nuraninya, selalu ada saja redup cahaya lirih. Ialah mimpi dan titik di masa depan dimana adik-anak-cucunya mengalami kecemerlangan, kemuliaan, kesejahteraan, keadilan.
Apatis? Putus asa?
            Ya, sampai aku menemukan sekuntum senyum dan harapan bernama Nusantara Raya. Kutemukan ia tidak dari masa silam, melainkan dari masa depan. Ia diperkenankan selintas-selintas menggoda kemanusiaanku, menggelitik kesadaran terdalamku bahwa akulah manusia Nusantara. Nusantara, sebuah bentangan integral samudera dan gugusan pulau. Setiap gugus pulaunya adalah kebanggan dan martabat, sementara samudera member jarak antar kebanggan itu, menjaganya agar tak melambung menjadi kesombongan. Dan mustahil untuk bisa menjelajahi samudera, berbantalkan obak dan berselimut angin, tanpa perahu.
            Ya, perahu. Banawa. Bukan perahu sembarang perahu, tetapi Banawa Sekar, bahtera bunga kebersamaan. Ia harus dibuat dari sekar yang dipetik dari masing-masing gugus pulau yang ada. Sebab samudera dan gugus pulau itu adalah satu, menyatu, kebersatuan, berbeda tetapi satu jua. Mitreka satata, Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Banawa Sekar adalah satu-satunya kemungkinan mengarungi samudera peradaban global yang makin mencengkeram bumi.
            Banawa Sekar adalah konsep dasar agro-maritim, sekaligus maritim-agro. Menyatukan tanah dan air, menjadi satu: tanah air. Dari tanah kau Kuciptakan, dan Kuhidupkan segala sesuatunya dari air; demikian sabda.

***

            Perlahan namun pasti, semesta sedang menghembuskan anginnya, mengangkat timbunan pasir dan tanah kerakusan penghuni Indonesia saat ini. Sedikit demi sedikit memunculkan kembali kebesaran Nusantara yang (mungkin) sengaja ditimbun agar ada yang sungguh-sungguh belajar, titen, iqra’ dan membuktikan kesetiaannya. Tinggal kita melalui Maiyah, beristiqomah –bistiqomati ma’iyyatina- melalui setiap rakaat shalat kebangsaan ini, mensucikan diri layak dan dipercaya mengemban amanah Nusantara Rayya.
            Dan aku sendiri, ijinkan menjadi ma’mum Simbah Maulana Muhammad Ainun Nadjib, perlahan mengikrarkan “syahadat kebangsaan”: laa Indonesia illa Nusantara

Acang

Sumenep – Tarik – Trowulan | purnama Rajab 1435 H

This entry was posted on Thursday, June 19, 2014 at 12:42 PM and is filed under , , , , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment