lanjutan
Fakta sejarah mencatat, betapa dengan penguasaan
teknologi kelautan yang tinggi itu, di Nusantara telah tegak Negara-negara
maritim yang kuat seperti Sriwijaya, Kalingga, Mataram, Singhasari, hingga
Majapahit. Dengan kemampuan memanfaatkan teknologi kelautan yang tinggi,
penguasa Sriwijaya pada paruh abad ke-8 melakukan ekspansi menggempur Khmer,
memenggal kepala raja Khmer bernama Mahipatiwarman; menggantinya dengan
Jayawarman II yang sudah dididik di Jawa oleh Maharaja Syailendra (Hall, 1961).
Penguasaan teknologi kelautan ini, dapat dianggap sebagai salah satu faktor yang
mengkendala penyebaran Agama Islam di Nusantara, karena pedagang-pedagang
muslim dan golongan Alawiyin dalam mendakwahkan kebenaran Islam kurang memiliki
nilai tawar yang menarik penduduk, terutama tawaran ilmu pengetahuan dan
teknologi yang melebihi apa yang dimiliki penduduk Nusantara. Adalah sebuah
keniscayaan, masyarakat yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih
tinggi tidak mau menerima tawaran-tawaran dari orang atau kelompok yang dinilai
lebih rendah ilmu pengetahuan dan teknologinya, apalagi mereka didukung oleh
kebijakan pemerintah yang menempatkan penduduk pribumi berkedudukan lebih
tinggi dibandingkan penduduk pendatang dari negeri lain.
Dalam
konteks ini, bisa dipahami bagaimana Islam yang datang di Peureulak sekitar
tahun 800 Masehi itu sulit berkembang karena selalu mendapat ancaman dari
kerajaan maritim Sriwijaya (Azmi, 1989), dimana pada 986 Masehi Sultan
Peureulak Alaiddin Syed Maulana Mahmud Shah yang berusaha mengembangkan
kekuasaan di selat Malaka, telah diserang oleh Sriwijaya yang mana dalam sebuah
pertempuran, Sultan gugur di medan perang, yang selanjutnya membawa Peureulak
jatuh dalam perang berlarut-larut sampai saat mundurnya Sriwijaya akibat
menghadapi kerajaan Dharmawangsa di Pulau Jawa (Fatimy, 1955), yaitu kurun masa
setelah mundurnya kekuasaan Sriwijaya. Demikianlah munculnya kekuasaan Islam di
Samudera Pasai, Aceh, Benua Tamiang, Lamuri, Malaka, berlangsung setelah
runtuhnya Sriwijaya. Sementara di Jawa, kekuasaan Majapahit yang masih kuat
berkuasa tidak memungkinkan bagi tumbuh dan berkembangnya dakwah Islam secara
Luas, apalagi yang berkaitan dengan kekuasaan politik. Kadipaten Demak yang
Islam, baru muncul setelah Majapahit jatuh dalam perang suksesi yang membawa
keruntuhannya. Demikian juga Kerajaan Ternate yang muncul pada 1257 Masehi
sebagai persekutuan empat kampong yang dipimpin Kolano Baah Mashur Malano, baru
muncul sebagai kasultanan Islam pada era kekuasaan Sultan Zaenal Abidin yang
bertahta pada 1486-1500 (Amal, 2002), yakni kurun waktu setelah jatuhnya
Majapahit ke dalam perang suksesi, yang berujung pada terkuburnya kerajaan
besar pada 1527
Pengetahuan Astronomi dan Sistem Kalender
Pengetahuan astronomi dan kalender yang dikenal
bangsa Nusantara awalnya berdasar
pengetahuan terhadap gejala-gejala alam yang berhubungan dengan musim, yang
dikenal dengan sebutan Pranata Mangsa (pengaturan musim). Meski secara formal
penggunaan kalender Pranata Mangsa dicanangkan Pakubuwono VII pada tahun 22
Juni 1855, namun kalender ini sudah hidup di tengah-tengah masyarakat petani
dan nelayan Nusantara jauh sebelum masuknya pengaruh India pada abad pertama
Masehi.
bersambung
--Sekilas Kebesaran Bangsa Nusantara di Masa Silam[bagian ketiga]
This entry was posted
on Sunday, June 22, 2014
at 3:29 PM
and is filed under
banawa,
bangsa,
bunga,
kebangsaan,
kemuliaan hidup,
majapahit,
manipulasi,
nusantara,
penghormatan,
peradaban
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.