Sekilas Kebesaran Bangsa
Nusantara di Masa Silam
Oleh: Agus Sunyoto
Sebelum
jaman modern yang ditandai Bangsa Eropa ke Nusantara, peradaban yang dibangun
oleh suku bangsa - suku bangsa yang tinggal di berbagai pulau di negeri yang
membentang diantara dua samudera ini sudah sangat tinggi. Semenjaka abad
pertama Masehi, jalur perdaganganNusantara dengan Laut Merah dan Teluk Persia
hingga Laut Cina telah terbentuk sebagaimana ditulis oleh para ahli abad-abad
awal Masehi itu, penduduk Nusantara – dengan kapal-kapalnya yang besar maupun
perahu-perahu kecil – diketahui sudah menjelajah hampir setiap negeri yang
membentang antara Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik dan mendirikan
koloni-koloni di sana. Bahkan sejak awal abad masehi, Bangsa Nusantara sudah
menciptakan kalender berdasarkan sistem astronomis dan matematika.
Teknologi Kelautan yang Canggih
Pada akhir abad ke-3 Masehi, seorang pegawai daerah di
Nanking yang bernama Wan Zhen, mencatat keberadaan kapal-kapal orang Kun Lun
(Nusantara) yang disebut Po dari negeri selatan yang memiliki ukuran yang
sangat besar: panjangnya 200 kaki (sekitar 66 meter), tingginya 20-30 kaki
(sekitar 7-10 meter) memuat 600-700 orang, mampu membawa muatan 10.000 hou…
(Wang Gongwu, 1958). Kata Po bukan asal Cina dan sepadan dengan kata Tamil
padao dan kata Melayu perahu atau kata Jawa prau; jadi po hanyalah salah satu istilah
dasar kosakata kelautan, dimana dari warisa kelautan yang tua itu berkembang
teknik-teknik kelautan Asia Timur pada abad pertengahan (Lombard, 2005). Penjelasan
ini menunjukkan fakta sejarah, betapa teknologi kelautan di Nusantara telah
lebih dalu maju disbanding Asia Timur yang berabad-abad hanya mengenal
kapal-kapal ukuran kecil yang disebut Jung. Bahkan pada abad pertengahan
pelaut-pelaut Nusantara telah menggunakan alat penunjuk arah mata angin bagi
kapal yang disebut Pedoman, yaitu alat penunjuk arah yang menggunakan jarum
karena alat yang disebut Pedoman berasal dari akar kata Pe-Dom-an, yang dalam Bahasa
Jawa bermakna ‘temoat jarum’.
Faxian
(Fa Hsien), seorang rahib Buddhis, dalam perjalanan kembali ke Cina – setelah tinggal
12 tahun di India – melalui Srilanka dengan menggunakan kapal besar bermuatan
sekitar dua ratus orang. Di tengah jalan, kapalnya diserang badai besar hingga
mendarat di Ye-po-ti, artinya Yawadwim (pa), nama Pulau Jawa dalam transkripsi Sansekerta.
Faxian tinggal selama lima bulan di Jawa, yaitu dari bulan Desember 412 sampai
Mei 413, menunggu selesainya pembangunan sebuah kapal yang sama besarnya untuk
kembali ke Cina (Giles, 1956). Catatan Faxian ini membuktikan bahwa kapal
besar bermuatan 200 orang sudah dibuat
orang Jawa pada awal abad ke-5 Masehi, dalam waktu sekitar lima bulan.
Gambaran
“kapal Borobudur” yang terpahat pada dinding Candi Borobudur yang berukuran
besar, dengan dua tiang utama layar berkaki tiga, cadik yang kukuh,
dayung-dayung yang lebar, dan kendali di belakang, adalah gambaran tentang
tingginya teknologi kelautan yang dimiliki oleh orang-orang Nusantara, paling
tidak pada abad ke-9 saat Candi Borobudur dibuat. Dipakainya istilah-istilah
khusus untuk menyebut jenis-jenis kendaraan angkutan air dari jenis perahu
kecil sampai kapal ukuran besar seperti prau, bandega, bahitra, banawa, panawa,
langkapan, pepentolan malabong, lelempon, karantengan, laladingan, palwa,
palwaraja, pidar (Zoetmulder, 1995), lancara phinisi, biduk, bahtera, sampan,
gethek, menunjukkan bukti bahwa teknologi kelautan sudah dikenal oleh penduduk
Nusantara sejak zaman kuno.
bersambung
--Sekilas Kebesaran Bangsa Nusantara di Masa Silam[bagian kedua]
bersambung
--Sekilas Kebesaran Bangsa Nusantara di Masa Silam[bagian kedua]
This entry was posted
on Thursday, June 19, 2014
at 1:50 PM
and is filed under
banawa,
bangsa,
bunga,
kesadaran,
majapahit,
manipulasi,
negara,
nusantara,
sekar
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.