Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Ketiga]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , ,

sambungan dari Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Kedua]

 Makna Tersirat Banawa Sekar


Sraddha merupakan upacara yang lazim diselenggarakan di zaman Majapahit. Sebab upacara ini merupaka tradisi dari agama Hindu. Fungsinya, sebagai upacara penghormatan atas anggota keluarga yang meninggal dunia. Biasanya dilakukan oleh anggota keluarga yang masih hidup. Upacara Sraddha dilangsungkan pada jangka 12 tahun setelah meninggalnya seorang raja yang diperingati itu. Rupanya jarak waktu 12 tahun ini sudah merupakan aturan, karena di dalam dua buah Prasasti Jiu terdapat istilah dwadasawarsa sraddha. Pada jaman keemasan Majapahit, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, upacara sraddha semacam itu pernah berlangsung dalam rangka memperingati arwah bunya yaitu Tribhuwana Wijayottunggadewi. Upacara sraddha ini terekam dalam kitab Kakawin Nagarakertagama dan kitab Paratron. Upacara sraddha untuk rajapatni tersebut berlangsung 12 tahun setelah wafatnya Tribhuwana Wijayottunggadewi, yaitu pada tahun 1350 M.
Dalam bahasa Jawa Baru, kata sraddha ini masih dipergunakan dan hidup menjadi kata nyadran, dengan terjadi metatesis huruf “r”. istilah ini dipergunakan oleh para peziarah yang mempunyai adat kebiasaan mengunjungi makam nenek moyangnya pada bulan Ruwah (dari kata Arab: arwah). Hidupnya kata sraddha dalam adat yang popular di Jawa menandakan bahwa upacara tersebut telah lama dilakukan, bahkan setelah agama Islam masuk, Sraddha yang menjelma menjadi Nyadran, pun tidak mengandung perbedaan motif yang besar. Tetap berkisar pada wilayah penghormatan leluhur, sembari menjadikan refleksi bagi pelakunya, untuk senantiasa memberihkan diri sebelum maut menjemput.
Hal yang patut dicatat pada Sraddha Banawa Sekar sebagaimana yang ditulis Mpu Tanakung pada Kakawinnya, adalah soal yang istimewa. Disamping penyelenggaraannya yang megah, juga karena alat-alat upacara yang diperguanakannya lain dengan lazimnya. Bila tradisi Hindu India menggunakan komponen persembahan berupa: air suci, butir-butir padi dan makana sebagai sesaji, maka pada Banawa Sekar, Sraddha dilaksanakan dengan menggunaka perahu yang dihias bunga-bunga. Itu merupaka kreatifitas baru, yang menampakkan akulturasi budaya, antara hindu India dan tata nilai lokal.
Dari sejarahnya, perahu bukanlah alat yang asing bagi enduduk Asia Tenggara, khususnya Majapahit. Tak sekedar transportasi dan perangkat ekonomi, perahu menuansakan peran yang jauh lebih filosofis. Perahu adalah produk budaya maritime sekaligus mendandakan kesadaran manusia akan teritori maritime tersebut. Sejak berabad abad silam, masyarakat Austronesia – termasuk Majapahit didalamnya – menyebut perahu denga aneka bahasa. Dari pelafal Tagalog dan Cebuano menyebutnya Baranggay atau Balanggay. Oran Toraja, Palawan, Jawa, Melayu, Bali, Bugis menyebutnya dengan kata Banawa. Kata-kata tersebut berkembang kemaknaanya menjadi rumah, rumah tangga, kelompok sosial, atau masyarakat.
Bahkan di Sumba, kepala rumah tangga di identikkan layaknya pemimpin sebuah perahu. Di pulau Kei, Tanimbar dan Sawu, bentuk rumah adat selalu dikiaskan sebagai perahu. Bagian bagian rumah tersebut, dinamakan layaknya bagian bagian pada perahu: lunas, tiang pancang layar (sokoguru/mast), layar dan kemudi. Di daerah Mandar, Sulawesi Barat, kerajaan Pamboang memiliki tiga menteri uatama yang disebut Pa’bicara. Ketiganya kerap disosokkan sebagai perlambang tiga layar (pallayarang tellu) yang merupakan pengiasan atas perahu. Dari sini makin terkuak, betapa perahu menempati posisi yang penting dalam kehidupan orang orang di kepulauan nusantara dari masa lalunya, terutama pada masa Majapahit.
Perahu memiliki makna spiritual yang kuat. Di masyarakat kepulauan Indonesia pada masa lalu, perahu dianggap sebagai kendaraan imajiner seseorang yang meninggal, untuk menuju kea lam berikutnya. Dalam kesadaran kosmik bangsa-bangsa di antero Majapahit, perahu dipercaya sebagai wahana penghubung antara dunia bawah atau bumi, dan dunia atas atau kahyangan.
Unsur bunga dalam Sraddha Banawa Sekar, tidak hanya digunakan sebagai syarat upacara. Bunga adalah perlambang tentang cinta dan keindahan. Menurut tradisi budaya Veda, bunga-bunga merupakan perwujudan Dewa Kamaa di alam materi yang akan menjadi perantara jiwa manusia untuk mencapai pembebasan yang sempurna dari ikatan keduniawian. Yang tak kalah penting fungsi bunga-bunga dalam Sraddha Banawa Sekar itu adalah representasi kultur masyarakat Majapahit yang agraris. Dalam tradisi, kehadirannya kerap disandingkan dengan dupa, sebagai perangkat sesaji untuk kenduri di sawah-sawah. Penggunaan bunga itu masih terbawa hingga kini, ketika sebutan upacara Sraddha telah berubah nama menjadi Nyadran.
Fenomena Banawa Sekar yang belangsung di masa-masa akhir Majapahit, sesungguhnya mengemukakan dimensi kearifan lokal yang kental. Saat situasi politik makro sedang goncang, rakyat diajak berselancar lagi pada lautan filosofi dan nilai luhur yang diwariskan nenek moyang. Semangat sebagai masyarakat maritime dan agraris dipertemukan lagi. Niat hidup yang bengkok, mesti diluruskan, agar bisa kembali ke kesucian. Identitas sebagai bangsa yang terdefinisi dai nilai-nilai luhur yang mengutamakan kesejahteraan bersama lewat cara-cara beradab, harus kembali dipegang. Tujuannya agar kedamaian bisa diwujudkan dan kejayaan bisa kembali direngkuh.

This entry was posted on Wednesday, June 4, 2014 at 11:06 AM and is filed under , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment