sambungan dari Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Kedua]
Makna
Tersirat Banawa Sekar
Sraddha merupakan upacara yang lazim diselenggarakan
di zaman Majapahit. Sebab upacara ini merupaka tradisi dari agama Hindu.
Fungsinya, sebagai upacara penghormatan atas anggota keluarga yang meninggal
dunia. Biasanya dilakukan oleh anggota keluarga yang masih hidup. Upacara
Sraddha dilangsungkan pada jangka 12 tahun setelah meninggalnya seorang raja
yang diperingati itu. Rupanya jarak waktu 12 tahun ini sudah merupakan aturan,
karena di dalam dua buah Prasasti Jiu terdapat istilah dwadasawarsa sraddha.
Pada jaman keemasan Majapahit, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk,
upacara sraddha semacam itu pernah berlangsung dalam rangka memperingati arwah
bunya yaitu Tribhuwana Wijayottunggadewi. Upacara sraddha ini terekam dalam
kitab Kakawin Nagarakertagama dan kitab Paratron. Upacara sraddha untuk
rajapatni tersebut berlangsung 12 tahun setelah wafatnya Tribhuwana
Wijayottunggadewi, yaitu pada tahun 1350 M.
Dalam bahasa Jawa Baru, kata sraddha ini masih
dipergunakan dan hidup menjadi kata nyadran, dengan terjadi metatesis huruf
“r”. istilah ini dipergunakan oleh para peziarah yang mempunyai adat kebiasaan
mengunjungi makam nenek moyangnya pada bulan Ruwah (dari kata Arab: arwah).
Hidupnya kata sraddha dalam adat yang popular di Jawa menandakan bahwa upacara
tersebut telah lama dilakukan, bahkan setelah agama Islam masuk, Sraddha yang
menjelma menjadi Nyadran, pun tidak mengandung perbedaan motif yang besar.
Tetap berkisar pada wilayah penghormatan leluhur, sembari menjadikan refleksi
bagi pelakunya, untuk senantiasa memberihkan diri sebelum maut menjemput.
Hal yang patut dicatat pada Sraddha Banawa Sekar
sebagaimana yang ditulis Mpu Tanakung pada Kakawinnya, adalah soal yang
istimewa. Disamping penyelenggaraannya yang megah, juga karena alat-alat
upacara yang diperguanakannya lain dengan lazimnya. Bila tradisi Hindu India
menggunakan komponen persembahan berupa: air suci, butir-butir padi dan makana
sebagai sesaji, maka pada Banawa Sekar, Sraddha dilaksanakan dengan menggunaka perahu
yang dihias bunga-bunga. Itu merupaka kreatifitas baru, yang menampakkan
akulturasi budaya, antara hindu India dan tata nilai lokal.
Dari sejarahnya, perahu bukanlah alat yang asing bagi
enduduk Asia Tenggara, khususnya Majapahit. Tak sekedar transportasi dan
perangkat ekonomi, perahu menuansakan peran yang jauh lebih filosofis. Perahu
adalah produk budaya maritime sekaligus mendandakan kesadaran manusia akan
teritori maritime tersebut. Sejak berabad abad silam, masyarakat Austronesia –
termasuk Majapahit didalamnya – menyebut perahu denga aneka bahasa. Dari
pelafal Tagalog dan Cebuano menyebutnya Baranggay atau Balanggay. Oran Toraja,
Palawan, Jawa, Melayu, Bali, Bugis menyebutnya dengan kata Banawa. Kata-kata
tersebut berkembang kemaknaanya menjadi rumah, rumah tangga, kelompok sosial,
atau masyarakat.
Bahkan di Sumba, kepala rumah tangga di identikkan
layaknya pemimpin sebuah perahu. Di pulau Kei, Tanimbar dan Sawu, bentuk rumah
adat selalu dikiaskan sebagai perahu. Bagian bagian rumah tersebut, dinamakan
layaknya bagian bagian pada perahu: lunas, tiang pancang layar (sokoguru/mast),
layar dan kemudi. Di daerah Mandar, Sulawesi Barat, kerajaan Pamboang memiliki
tiga menteri uatama yang disebut Pa’bicara. Ketiganya kerap disosokkan sebagai
perlambang tiga layar (pallayarang tellu) yang merupakan pengiasan atas perahu.
Dari sini makin terkuak, betapa perahu menempati posisi yang penting dalam
kehidupan orang orang di kepulauan nusantara dari masa lalunya, terutama pada
masa Majapahit.
Perahu memiliki makna spiritual yang kuat. Di masyarakat
kepulauan Indonesia pada masa lalu, perahu dianggap sebagai kendaraan imajiner
seseorang yang meninggal, untuk menuju kea lam berikutnya. Dalam kesadaran kosmik
bangsa-bangsa di antero Majapahit, perahu dipercaya sebagai wahana penghubung
antara dunia bawah atau bumi, dan dunia atas atau kahyangan.
Unsur bunga dalam Sraddha Banawa Sekar, tidak hanya
digunakan sebagai syarat upacara. Bunga adalah perlambang tentang cinta dan
keindahan. Menurut tradisi budaya Veda, bunga-bunga merupakan perwujudan Dewa
Kamaa di alam materi yang akan menjadi perantara jiwa manusia untuk mencapai
pembebasan yang sempurna dari ikatan keduniawian. Yang tak kalah penting fungsi
bunga-bunga dalam Sraddha Banawa Sekar itu adalah representasi kultur
masyarakat Majapahit yang agraris. Dalam tradisi, kehadirannya kerap
disandingkan dengan dupa, sebagai perangkat sesaji untuk kenduri di
sawah-sawah. Penggunaan bunga itu masih terbawa hingga kini, ketika sebutan
upacara Sraddha telah berubah nama menjadi Nyadran.
Fenomena Banawa Sekar yang belangsung di masa-masa
akhir Majapahit, sesungguhnya mengemukakan dimensi kearifan lokal yang kental. Saat
situasi politik makro sedang goncang, rakyat diajak berselancar lagi pada
lautan filosofi dan nilai luhur yang diwariskan nenek moyang. Semangat sebagai
masyarakat maritime dan agraris dipertemukan lagi. Niat hidup yang bengkok, mesti
diluruskan, agar bisa kembali ke kesucian. Identitas sebagai bangsa yang
terdefinisi dai nilai-nilai luhur yang mengutamakan kesejahteraan bersama lewat
cara-cara beradab, harus kembali dipegang. Tujuannya agar kedamaian bisa
diwujudkan dan kejayaan bisa kembali direngkuh.
This entry was posted
on Wednesday, June 4, 2014
at 11:06 AM
and is filed under
banawa,
bunga,
kebangsaan,
leluhur,
maiyah,
majapahit,
nusantara,
penghormatan,
sekar,
upacara
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.