Bahtera Seribu Aneka Bunga  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

Bahtera Seribu Aneka Bunga
Upaya untuk Menggugah Kesadaran akan Potensi sebagai Bangsa Besar

Oleh: Achmad Rifai*

“Aku meninggalkan Jelitaku dahulu di peraduan, bukan karena aku lupa indahnya peraduan asmara, namun karena hasratku yang tak tertahankan untuk melukiskan keindahan tanah air” (Mpu Tanakung)


            penggalan kalimat di atas adalah sindiran halus atau lebih tepatnya mengandung pesan moral untuk mengingatkan warga bangsa khususnya pada para elit Majapahit, bertolak dari keprihatinan si penulis atas kondisi yang terjadi saat itu. Kalimat tersebut digoreskan oleh seorang Mpu yang rasanya terlalu sempit jika disebut sekedar sebagai Pujangga atau Sastrawan; dan rasanya koq agak mengecilkan tokoh rohaniawan yang sekaligus budayawan Majapahit satu ini, yang maqamnya sudah pantas disebut sebagai Guru Bangsa yang waskita.
            Dua Kondisi Obyektif yang Mirip
            Sejarah berulang, demikian kata orang, tentu saja variannya bisa berbeda atau tidak selalu sama, tetapi substansinya sama atau paling tidak ada kemiripan. Dan karena itu kita perlu belajar dari sejarah.
            Dikisahkan, Mpu Tanakung sangat prihatin atas perilaku elit dan keadaan Majapahit sebagai negeri besar yang berdaulat yang kondisinya semakin rapuh dan terpuruk. Di antaranya: perilaku para elitnya yang hanya sibuk mengejar kekuasaan semata-mata, selaku pewaris negeri seakan lupa bagaimana perjuangan para pendahulu mereka. Mereka tidak bisa merasakan lagi betapa sulitnya mendirikan dan upaya meraih puncak kemegahan. Terlebih setelah Hayam Wuruk, dan Gajah Mada mangkat, kondisi negara menghadapi berbagai rongrongan bahkan ancaman disintegrasi baik dari anasir luar maupun dalam, namun hal ini tidak disadari oleh para elit pemegang kekuasaan. Para elit justru sibuk dengan agendanya sendiri-sendiri, bahkan hidup dalam kemewahan, asyik menikmati jerih payah para pendiri negeri. Syahwat ingin berkuasa telah menghalalkan segala cara, perang saudara pun ditempuh dalam rangka suksesi kepemimpinan, hingga mereka tidak lagi peka dengan bahaya kepentingan asing baik yang terang-terangan apalagi yang diam diam mengancam. Para elit telah kehilangan jati diri bangsa, terjebak dalam manuver politik pragmatis yang mengorbankan kepentingan negara demi kepentingan kelompoknya. Dan ketika itulah, para pemimpin hanya pandai berbicara tanpa bisa menjadi teladan bagi rakyat.
            Lewat persembahan Banawa Sekar, sang Mpu Tanakung menyindir sebagaimana dituliskan bahwa ia lebih memilih memuja keindahan tanah airnya –sebagai wujud semangat nasionalisme dan rasa patriotisme-  ketimbang memikirkan nikmatnya memadu asmara, dengan meninggalkan kekasihnya –sebagai simbol kepentingan pribadi. Sang Mpu memilih kesepian demi baktinya kepada negeri, meski harus berada di tengah sunyi, sepi, sendiri, dan tanpa asmara.dan ini adalah bentuk kritik kepada jajaran elit penguasa Majapahit yang lebih silau oleh kecantikan puteri-puteri Cina yang saat itu ada di negeri Majapahit semenjak kedatangan armada Cina dari dinasti Ming yang dipimpin oleh Laksamana Ceng Ho yang sempat mampir di teritori Majapahit, tanpa menyadari bahwa wanita-wanita cantik itu menjadi agen-agen politik kepentingan asing.
            Mengaitkan dengan konstelasi politik kekuasaan era sekarang, dimana bangsa Indonesia sebentar lagi juga tengah melangsungkan proses sirkulasi kekuasaan. Dan melihat ketamakan kekuatan kapitalisme global, kita juga tidak bisa mengabaikan menyusupnya kepentingan-kepentingan asing, utamanya dari kekuatan ekonomi Amerika Serikat beserta koleganya seperti Uni Eropa dan Australia di satu pihak; dan di pihak lain kepentingan ekonomi negeri Tiongkok yang diam-diam juga tak kalah kapitalis upayanya dalam menguasai asset-aset ekonomi dunia, yang secara terencana hendak juga mendompleng di balik proses suksesi yang sebentar lagi berlangsung.

            Nusantara di era Republik sekarang ini adalah peninggalan warisan teritori negara kesatuan era kejayaan Majapahit ibarat janda muda kaya raya semenjak ditinggalkan para pendiri negeri yang telah susah payah mengupayakan kemerdekaan bangsanya dari belenggu kaum penjajah. Seiring berlalunya Orla, memasuki jaman Orba, dan terlebih di era reformasi saat ini, ternyata para elit negeri ini bukanya serius menjaga dan mengelola warisan kekayaan untuk kesejahteraan rakyat dan kepentingan generasi anak cucu, malah sibuk dengan agendanya sendiri, bahkan ada yang sibuk menjadi mak comblang kepentingan asing yang akan menguras kekayaan negeri ini demi meraih ambisi kekuasaan sembari mengharapkan laba.

[bersambung.. Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian kedua)]

This entry was posted on Friday, June 13, 2014 at 1:08 PM and is filed under , , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment