[sambungan Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian kedua)]
Apa dan Mengapa Ruwatan Agung?
Ruwatan yang sebenarnya
merupakan langkah koreksi adalah salah satu bentuk ikhtiar dalam ruang muamalah
khas penduduk nusantara ketika individu atau masyarakat berharap akan datangmya
kebaikan, yang dengan demikian artinya juga sekaligus menolak konsekwensi dari
tindakan salah atau buruk. Sebenarnya di belahan negeri lain dan dalam setiap
agama juga ada ritual semacam ini walaupun penamaan dan manifestasinya bisa
saja berbeda demikian pula maksud dan alasan yang mendasari berbeda.
Tidak berbeda dengan
tradisi slametan, ketika seseorang
mengharapkan keselamatan dengan berdoa dan menghaturkan semua maksud dan
harapannya kepada Yang Maha Pemberi Keselamatan, tentu saja ini boleh. Perkara
disamping itu, setelah acara pemanjatan doa (bersama) ada pembagian nasi dan
kue untuk para tetangga itu juga baik-baik saja. Bersedekah dengan niat
mendekatkan diri kepada Allah SWT malah bisa menjadi wasilah terkabulnya
doa-doa yang dipanjatkan. Bedanya yang namanya ruwatan itu frekuensi dan
kepentingannya biasanya tidak regular (baca; biasanya menyangkut hajat yang
lebih besar yang terkait dengan kemaslahatan jangka panjang). Sebuah persembahan
atau ruwatan agung, skala yang ingin dijangkau lebih luas lagi dan lebih
substansif. Dan ini tidak berbeda dengan hajatan besar model apel siaga beserta
pernyataan kebulatan tekad seperti Sumpah Pemuda. Jangan lantas kita kerdil
dalam berfikir lantas serta merta menuduh bahwa ini tindakan bid’ah. Selamata,
ruwatan, persembahan memang budaya yang telah ada sebelum era-Islam, dan jika
ini dimaknai sebagai ikhtiar untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan bangsa,
ini adalah contoh yang baik. Tinggal kita tujukan semua maksud dan ikhtiar tadi
kepada Dia Yang Maha Segalanya untuk mendapatkan ridlo-Nya. Sebaiknya,
janganlah kita diam seribu bahasa ketika pagelaran besar dan mewah WTO yang
dikenal denagan Putaran Bali, yang implikasinya justru menggadaikan kedaulatan
ekonomi nasional, dimana disharmoni keadilan ekonomi global dirancang dan
diatur oleh kekuatan kapitalis dunia walaupun ini legal, yang terakhir ini
jelas-jelas mengandung kemungkaran.
Niat dan upaya mengenali untuk kemudian
membuang dan menghancurkan hal-hal yang tidak baik agar dengan demikian
diharapkan akan datang atau muncul kebaikan. Diawali dengan sikap menolak
hal-hal yang buruk untuk kemudian menggali dan menumbuhkan kembali nilai-nilai
luhur, termasuk di dalamnya aneka potensi kekayaan positif yang dimiliki
bangsa. Alasan yang sama yang mendasari seorang raja Majapahit yaitu Tribuana
Tungga Dewi ketika memutuskan untuk melakukan ruwatan, atas kesalahan
leluhurnya Raja Erlangga – di samping sekian banyak jasa-jasanya – yang ternyata
pada akhir era kekuasaan lebih mementingkan cintanya kepada keluarga dengan
membagi wilayah kerajaan untuk anaknya dibandingkan kepentingan dan kebesaran
negara.
Mengapa mesti lewat pagelaran nada dan seni? Seni
adalah bagian dari khazanah keindahan makhluk ciptaan-Nya. Dan jangan pernah lupa,
selain sifat-sifat Jalaliyah, Dia Yang Maha Agung juga memiliki sifat-sifat
Jamaliyah. Dan boleh-boleh saja manusia mendekati dan mengharapkan ridlo-Nya
dengan mempersembahkan berbagai keindahan. Sebab Dia Yang Maha Indah menyukai
hal-hal yang indah dan baik. Bahkan akan lebih baik lagi kita libatkan semua
anasir alam semesta untuk meraih ridlo-Nya.
Karena itu sebuah persembahan tak bisa dimaknai
atau cukup berhenti pada gegap gempita seremoni belaka, apalagi jika sebatas
terpesona euphoria indahnya untaian nada dan kata yang disusun. Persembahan adalah
ruwatan agung untuk pembaharuan diri. Untuk kepentingan bangsa selayaknya
dilakukan sebanyak mungkin pihak. Dan itu bisa kita mulai dari diri kita
masing-masing untuk memposisikan kembali diri ke orbit atau lintasan yang
memungkinkan kita kembali meraih kejayaan bangsa sesuai dengan peran kita
masing-masing sebagai warga bangsa. Ibarat kita tidak mendapatkan sinar
matahari, tentu itu bukan salah mataharinya, sebab matahari tetap bersinar. Itulah
rahmatan lil alamin. Tugas kita mencari posisi agar diri kita selain juga turut
ikut menggiring masyarakat dan bangsa ini agar mendapat limpahan cahaya.
“Banawa Sekar” selain mencatat syair-syair
bernilai luhur yang ditunjukkan untuk warga khususnya para elit penguasa, juga
merupakan ajakan untuk kembali kepada semangat awal di balik berdiri dan
kebesaran Majapahit. Lewat persembahan itu, Mpu Tanakung telah menunaikan tugas
sejarahnya, membawa suara kebenaran bagi bangsanya dengan mengingatkan dan
mengajak penduduk negeri dan khususnya penguasa negeri (baca: para elit dan
penguasa) untuk kembali kepada semangat para pendiri bangsa, dan menjunjung
nilai-nilai luhur bangsanya.
Peran Masyarakat Maiyah
Maiyah awalnya saya hanya ikuti dari ‘jauh’
meskipun belakangan semakin intens berinteraksi dengan beberapa individu para
penggiat Maiyah, dan karena itu saya pribadi kemudian lebih sreg memaknainya sebagai
gerakan penyadaran nilai-nilai, yang saya optimis akan menjadi sebuah gerakan
budaya yang berkesinambungan dan diharapkan bisa membawa peradaban bangsa ini
menjadi lebih bermartabat. Tentu berbeda dengan revolusi budaya ala Mao Zedong
yang fatal yang menegasikan nilai-nilai luhur bangsanya sendiri dan karena itu
nyaris gagal jika tidak direvisi saat itu. Dan Maiyah yang saya tahu juga bukan
melulu gerakan keagamaan yang dogmatis yang kaku dan cenderung menggiring orang
menjadi atau kemudian memiliki cakrawala sempit dalam pola pikirnya, tetapi
justru lewat dialektika-dialektika di forum-forum Maiyah yang saya amati dan
ikuti adalah terjadinya penyadaran yang berlangsung dalam iklim yang terbuka. Inilah
sebenarnya gerakan restorasi nilai-nilai yang sesungguhnya, meskipun tak pernah
ada klaim muluk-muluk sebagai upaya restorasi, yang tentu saja berbeda dengan
model restorasi yang muncul belakangan di mana ujung-ujungnya tampaknya tak
lebih dari sekedar agenda untuk menyalurkan hasrat untuk meraih kekuasaan –paling
tidak ini penilaian subyektif saya. Dan Maiyah juga bukan gerakan reformasi,
yang sekedar me-reform atau membentuk kembali puing-puing yang sebenarnya telah
hancur, untuk tidak mengatakan tak ada berharganya.
Oleh karena itu setiaap orang Maiyah tak
semestinya hanya mentransformasikan diri sendiri, lebih dari itu menurut pendapat
saya hukumnya wajib secara moral untuk menularkan nilai-nilai yang telah
digalih, diperoleh dan/atau yang telah dipelajari untuk kebaikan keluarga,
masyarakat, bangsa, dan negaranya. Apalagi lantas puas karena sudah menjadi
bagian dari sebuah komunitas intelektual; atau apalagi bangga sekedar tampak
berbeda; atau apalagi sekedar penikmat meskipun telah menjadi bagian dari
gerakan penyadaran hati nurani dan pola pikir di tanah air. Terlalu mewah, jika
gagasan hadirnya Maiyah hanya untuk hal remeh-remeh seperti ini. Sebagaimana mewahnya tidur di siang hari
ketika kondisi masyarakat banyak problem.
Kerja-kerja nyata yang tulus dan tanpa mengenal
putus asa (ikhlas) serta berkesinambungan (istiqomah) adalah konsekwensi dari
ide-ide, wacana, dan perjuangan dalam hidup. Apapun bentuk dan wujud peran yang
bisa kita lakukan, baik besar atau kecil. Dan mudah-mudahan itu menjadi
tambahan catatan setoran kita selaku khalifah-Nya di bumi.
·
JM
Nusantara
This entry was posted
on Monday, June 16, 2014
at 1:29 PM
and is filed under
banawa,
bangsa,
bunga,
kemuliaan hidup,
manipulasi,
negara,
peradaban,
sekar
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.