Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian ketiga)  

Posted by Unknown in , , , , , , ,


Apa dan Mengapa Ruwatan Agung?
            Ruwatan yang sebenarnya merupakan langkah koreksi adalah salah satu bentuk ikhtiar dalam ruang muamalah khas penduduk nusantara ketika individu atau masyarakat berharap akan datangmya kebaikan, yang dengan demikian artinya juga sekaligus menolak konsekwensi dari tindakan salah atau buruk. Sebenarnya di belahan negeri lain dan dalam setiap agama juga ada ritual semacam ini walaupun penamaan dan manifestasinya bisa saja berbeda demikian pula maksud dan alasan yang mendasari berbeda.

            Tidak berbeda dengan tradisi slametan, ketika seseorang mengharapkan keselamatan dengan berdoa dan menghaturkan semua maksud dan harapannya kepada Yang Maha Pemberi Keselamatan, tentu saja ini boleh. Perkara disamping itu, setelah acara pemanjatan doa (bersama) ada pembagian nasi dan kue untuk para tetangga itu juga baik-baik saja. Bersedekah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT malah bisa menjadi wasilah terkabulnya doa-doa yang dipanjatkan. Bedanya yang namanya ruwatan itu frekuensi dan kepentingannya biasanya tidak regular (baca; biasanya menyangkut hajat yang lebih besar yang terkait dengan kemaslahatan jangka panjang). Sebuah persembahan atau ruwatan agung, skala yang ingin dijangkau lebih luas lagi dan lebih substansif. Dan ini tidak berbeda dengan hajatan besar model apel siaga beserta pernyataan kebulatan tekad seperti Sumpah Pemuda. Jangan lantas kita kerdil dalam berfikir lantas serta merta menuduh bahwa ini tindakan bid’ah. Selamata, ruwatan, persembahan memang budaya yang telah ada sebelum era-Islam, dan jika ini dimaknai sebagai ikhtiar untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan bangsa, ini adalah contoh yang baik. Tinggal kita tujukan semua maksud dan ikhtiar tadi kepada Dia Yang Maha Segalanya untuk mendapatkan ridlo-Nya. Sebaiknya, janganlah kita diam seribu bahasa ketika pagelaran besar dan mewah WTO yang dikenal denagan Putaran Bali, yang implikasinya justru menggadaikan kedaulatan ekonomi nasional, dimana disharmoni keadilan ekonomi global dirancang dan diatur oleh kekuatan kapitalis dunia walaupun ini legal, yang terakhir ini jelas-jelas mengandung kemungkaran.
Niat dan upaya mengenali untuk kemudian membuang dan menghancurkan hal-hal yang tidak baik agar dengan demikian diharapkan akan datang atau muncul kebaikan. Diawali dengan sikap menolak hal-hal yang buruk untuk kemudian menggali dan menumbuhkan kembali nilai-nilai luhur, termasuk di dalamnya aneka potensi kekayaan positif yang dimiliki bangsa. Alasan yang sama yang mendasari seorang raja Majapahit yaitu Tribuana Tungga Dewi ketika memutuskan untuk melakukan ruwatan, atas kesalahan leluhurnya Raja Erlangga – di samping sekian banyak jasa-jasanya – yang ternyata pada akhir era kekuasaan lebih mementingkan cintanya kepada keluarga dengan membagi wilayah kerajaan untuk anaknya dibandingkan kepentingan dan kebesaran negara.
Mengapa mesti lewat pagelaran nada dan seni? Seni adalah bagian dari khazanah keindahan makhluk ciptaan-Nya. Dan jangan pernah lupa, selain sifat-sifat Jalaliyah, Dia Yang Maha Agung juga memiliki sifat-sifat Jamaliyah. Dan boleh-boleh saja manusia mendekati dan mengharapkan ridlo-Nya dengan mempersembahkan berbagai keindahan. Sebab Dia Yang Maha Indah menyukai hal-hal yang indah dan baik. Bahkan akan lebih baik lagi kita libatkan semua anasir alam semesta untuk meraih ridlo-Nya.
Karena itu sebuah persembahan tak bisa dimaknai atau cukup berhenti pada gegap gempita seremoni belaka, apalagi jika sebatas terpesona euphoria indahnya untaian nada dan kata yang disusun. Persembahan adalah ruwatan agung untuk pembaharuan diri. Untuk kepentingan bangsa selayaknya dilakukan sebanyak mungkin pihak. Dan itu bisa kita mulai dari diri kita masing-masing untuk memposisikan kembali diri ke orbit atau lintasan yang memungkinkan kita kembali meraih kejayaan bangsa sesuai dengan peran kita masing-masing sebagai warga bangsa. Ibarat kita tidak mendapatkan sinar matahari, tentu itu bukan salah mataharinya, sebab matahari tetap bersinar. Itulah rahmatan lil alamin. Tugas kita mencari posisi agar diri kita selain juga turut ikut menggiring masyarakat dan bangsa ini agar mendapat limpahan cahaya.
“Banawa Sekar” selain mencatat syair-syair bernilai luhur yang ditunjukkan untuk warga khususnya para elit penguasa, juga merupakan ajakan untuk kembali kepada semangat awal di balik berdiri dan kebesaran Majapahit. Lewat persembahan itu, Mpu Tanakung telah menunaikan tugas sejarahnya, membawa suara kebenaran bagi bangsanya dengan mengingatkan dan mengajak penduduk negeri dan khususnya penguasa negeri (baca: para elit dan penguasa) untuk kembali kepada semangat para pendiri bangsa, dan menjunjung nilai-nilai luhur bangsanya.
Peran Masyarakat Maiyah
Maiyah awalnya saya hanya ikuti dari ‘jauh’ meskipun belakangan semakin intens berinteraksi dengan beberapa individu para penggiat Maiyah, dan karena itu saya pribadi kemudian lebih sreg memaknainya sebagai gerakan penyadaran nilai-nilai, yang saya optimis akan menjadi sebuah gerakan budaya yang berkesinambungan dan diharapkan bisa membawa peradaban bangsa ini menjadi lebih bermartabat. Tentu berbeda dengan revolusi budaya ala Mao Zedong yang fatal yang menegasikan nilai-nilai luhur bangsanya sendiri dan karena itu nyaris gagal jika tidak direvisi saat itu. Dan Maiyah yang saya tahu juga bukan melulu gerakan keagamaan yang dogmatis yang kaku dan cenderung menggiring orang menjadi atau kemudian memiliki cakrawala sempit dalam pola pikirnya, tetapi justru lewat dialektika-dialektika di forum-forum Maiyah yang saya amati dan ikuti adalah terjadinya penyadaran yang berlangsung dalam iklim yang terbuka. Inilah sebenarnya gerakan restorasi nilai-nilai yang sesungguhnya, meskipun tak pernah ada klaim muluk-muluk sebagai upaya restorasi, yang tentu saja berbeda dengan model restorasi yang muncul belakangan di mana ujung-ujungnya tampaknya tak lebih dari sekedar agenda untuk menyalurkan hasrat untuk meraih kekuasaan –paling tidak ini penilaian subyektif saya. Dan Maiyah juga bukan gerakan reformasi, yang sekedar me-reform atau membentuk kembali puing-puing yang sebenarnya telah hancur, untuk tidak mengatakan tak ada berharganya.
Oleh karena itu setiaap orang Maiyah tak semestinya hanya mentransformasikan diri sendiri, lebih dari itu menurut pendapat saya hukumnya wajib secara moral untuk menularkan nilai-nilai yang telah digalih, diperoleh dan/atau yang telah dipelajari untuk kebaikan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Apalagi lantas puas karena sudah menjadi bagian dari sebuah komunitas intelektual; atau apalagi bangga sekedar tampak berbeda; atau apalagi sekedar penikmat meskipun telah menjadi bagian dari gerakan penyadaran hati nurani dan pola pikir di tanah air. Terlalu mewah, jika gagasan hadirnya Maiyah hanya untuk hal remeh-remeh seperti ini.  Sebagaimana mewahnya tidur di siang hari ketika kondisi masyarakat banyak problem.
Kerja-kerja nyata yang tulus dan tanpa mengenal putus asa (ikhlas) serta berkesinambungan (istiqomah) adalah konsekwensi dari ide-ide, wacana, dan perjuangan dalam hidup. Apapun bentuk dan wujud peran yang bisa kita lakukan, baik besar atau kecil. Dan mudah-mudahan itu menjadi tambahan catatan setoran kita selaku khalifah-Nya di bumi.


·         JM Nusantara

This entry was posted on Monday, June 16, 2014 at 1:29 PM and is filed under , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment