Banawa Sekar
Sebuah Ungkapan Zaman
Sebuah pesta besar demokrasi baru saja usai. Pemilihan
umum, demikianlah namanya. Mempersaksikan bagaimana bangsa ini
menyelenggarakannya sungguh membahagiakan. Tengoklah bagaimana KPU
membelanjakan anggaran, memborong lembaran kertas suara, kotak suara, dan
mendistribusikannya ke setiap jengkal mimpi rakyat. Sungguh sebuah pengorbanan
tiada tara. Kenanglah bagaimana sejenis spesies bernama golput, si anak haram
demokrasi, begitu ditakuti. Resapilah juga pengorbanan parpol & caleg-caleg
yang menyediakan dirinya untuk memikirkan nasib sekian puluh juta saudaranya. Setidaknya
untuk 5 tahun kedepan. Ia sebuah pesta bukan? Maka begitulah adanya TPS-TPS,
dihiasi sedemikian laksana sebuah resepsi. Sebab pemilu adalah titik penting.
Satu hari yang konon kata KPU, menentukan nasib bangsa selama 5 tahun kedepan.
Lalu, bagaimana 5 tahun setelahnya? Ya tunggu pesta berikutnya. Toh, usia masa
depan “hanya” sejengkal waktu berdurasi 5 tahun. “Sependek” jalan raya Anyer –
Panarukan yang (katanya) dibangun Daendels.
Tapi
pesta belumlah usai sepenuhnya. Dilanjutkan kemudian dengan transaksi-transaksi
yang diklambeni dengan jubah koalisi.
Disusul kemudian oleh dagang-dagan yang dipertontonkan kepada rakyat dengan
jargon politik. Supaya kelihatan mengikuti informasi, silahkan pelototi dan
dengarkan dengan cermat arus simpang-siur hilir mudik parpol-parpol,
makelar-makelar politik, atau pun oportunis-oportunis kekuasaan. Lalu
sempatkanlah sekejap mata saja bertanya, di antara semua itu, di manakah
terletak kesejahteraan rakyat? Tapi bersyukurlah masih ada sop buntut. Wejangan
dan dawuh para begawan sedemikian rupa dipotong-potong, kemudian diambil
buntutnya saja, dipajang di baliho dan poster-poster –dan disuguhkan pada
rakyat yang gumunan, gemedhe, dan tak memiliki kesanggupan
kecuali hanya makan apa saja yang dihidangkan.
Siswa-siswa
sekolahannya sedang dirundung duka, dicengkeram bayang-bayang menakutkan Ujian
Nasional. Sementara maha-siswa-nya dengan bangga mengenakan jas almamaternya masing-masing,
berangkat ke studio TV, mengantri untuk cengengesan bersama. Atau lebih intelek
lagi, untuk diceramahi berjamaah. Diceramahi motivator, anchor TV, politisi maupun para badut.
Atau kalau jenuh, kembalilah ke
jalan raya. Saksikanlah bagaimana dengan penuh nafsu, banyak pengemudi membuang
suara klakson ke sembarang telinga. Demikian kata penyair Luk-Guluk, ke Faizi.
Bagaimana kemudi kendaraan dijalankan tidak dalam frame saling menyelamatkan
satu sama lain. Bagaimana keberhasilan seseorang menyeberang jalan adalah
laksana lolos dari lubang kematian. Bagaimana pula ketidak sabaran menjadi
penguasa jalanan. Perhatikanlah masing-masing yang ada di balik kemudi atau di
bangku penumpang; ada seorang yang sedang dalam ketakutan yang amat sangat, karena
sebentar lagi akan menghadapi UN. Di ujung sana, ada onderdil kecil bernama
buruh, sebiji sekrup dari sebuah industri besar –sedang mencoba menikmati
tidurnya di atas kendaraan. Yang kegerahan itu adalah seorang buruan, buruan
abadi dari rutinitas. Yang sedang duduk gelisah itu adalah produk media bernama
ustadz, yang akan menghadiri undangan, dimana ia akan disanjung dipuja.
Sekarang cobalah sempatkan, di antara setiap helaan nafas, tanyakan dimakah
manusianya?
[bersambung Banawa Sekar Sebuah Ungkapan Zaman (bagian kedua)]