Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan [Bagian Pertama]  

Posted by Unknown in , , , , , , , , ,

BANAWA MAIYAH, SEKAR KEBANGSAAN
Erik Supit

            Topik sejarah mengenai masa-masa akhir Majapahit tak habis-habis untuk dibicarakan. Kejatuhannya yang tragis, menyimpan pelajaran besar. Imperium raksasa tumbuh dengan percaya diri tersebut, pada akhirnya mesti bertekuk lutut dengan perubahan zaman. Banyak faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan itu. Semuanya jalin-menjalin membentuk pola yang saling mempengaruhi dan berhubungan sebab akibat.

            Mukadimah
            Dari berbagai penelitian yang mengupas perihal Sedyakalaning Majapahit, rata-rata menyebut, bahwa pemicu pokok dari kehancuranya, bersumber pada nilai-nilai luhur yang tak lagi dipegang teguh. Seperangkat tata hidup yang pernah membawa Majapahit pada puncak kejayaanya telah ditinggalkan. Sistem hokum serta atika sosial-politik, hasil dialetika berabad-abad dalam masyarakat cosmopolitan dan multikultur tersebut, terlanggar secara fatal. Periode pamungkas dari Majapahit ini, selayaknya jadi cermin bagi Indonesia, agar tak terjerumus dalam kesalahan yang sama.
            Seorang sastrawan spiritual yang mahir  bahasa Sansekerta serta bahasa Jawa Kuna, bernama Mpu Tanakung hidup pada periode akhir Mjapahit itu. Gelar empu yang disandangnya memperlihatkan bahwa Tanakung adalah orang suci yang dihormati. Ia aktif sebagai kawi pada kisaran 1466-1478. Salah satu karya besar Mpu Tanakung yang digubah pada periode tersebut adalah Kakawin Banawa Sekar.
            Sekilas, tak ada yang istimewa dari karya sastra tersebut. Selain kata-kata indah sebagai penceritaan upacara yang disebut Sraddha. Persembahan agung yang diselenggarakan untuk menghormati leluhur, khususnya arwah raja ke-8 Majapaht yang bergelar Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang Sinagara. Menyertakan perahu yang dibangun dari bunga-bunga aneka ragam, untuk menghantar puja bagi arwh sang prabhu. Sraddha yang dikisahkan dalam Kakawin Banawa Sekar tersebut, diselenggarakan oleh anak keturunan Sang Sinagara, 12 tahun setelah raja itu meninggal.
            Namun bila ditelaah lebih dalam, rupanya Mpu Tanakung hendak mengungkapkan solusi tersirat atas permasalahan yang membelit negaranya. Lewat perlambang-perlambang dalam Sraddha yang dikisahkan melalui kakawinnya itu, ia mengingatkan kepada rakyat Majapahit, untuk kembali kepada nilai-nilai luhur warisan nenek moyang. Tentang bangsa yang sanggup membangun kemakmuran dalam  kultur maritime serta agraris sekaligus. Mengenai bangsa yang memiliki daya adaptasi tinggi, kemampuan akulturasi yang mumpuni, hingga tetap mampu mempertahankan identitas diri tanpa harus menolak perkembangan dunia. Bangsa yang lebih mengunggulkan konsep-konsep cinta dalam membangun pedabanya dengan damai.
            Secara tidak langsung kisah Banawa Sekar juga hendak mengungkapkan, bahwa hanya golongan-golongan yang masih menerapkan nilai-nilai keluhuran tesebutlah yang bisa bertahan dari terjangan zaman. Tidak iktu terkikis, seperti Majapahit yang telah keropos digerogoti perikaian demi pertikaian. Pesan implicit Banawa Sekar ini, ternyata relevan dengan kondisi obyektif Indonesia terkini. Saat identitas kebangsaan sudah tak dikenali lagi, ketika ranah politik kenegaraan banyak diisi oleh kecurangan-kecurangan terhadap amanat rakyat.
            Seruan-seruan untuk terus-menerus menggali pemahaman tentang identitas kebangsaan, juga kerap dilontarkan Cak Nun dalam forum-forum Maiyahan. Sebagai sebuah wahana, maiyah layaknya laboratorium yang tak henti berdialektika dengan perubahan untuk menemukan kreatifitas-kreatifitas baru dalam mencari formula untuk Indonesia. Sebagai sebuah ideologi, Maiyah menjadi pisau bedah untuk mencari jalan bagi persoalan bangsa, dengan tetap memegang teguh asas-asas tauhid, untuk senantiasa memprioritaskan akhlak mulia. Banawa Sekar adalah salah satu wacana yang dikupas, untuk mencari model solusi di tengah sengkarut politik Indonesia yang tak tentu arah.

[bersambung ke bagian kedua...]

This entry was posted on Monday, June 2, 2014 at 10:37 AM and is filed under , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment