Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian kedua)  

Posted by Unknown in , , , , , , , , , ,

[sambungan Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian pertama)]



Ironi Sebuah Negeri dengan Aneka Potensi
            Nusantara sebuah negeri kaya raya dengan keunggulan yang secara komparatif sulit dicarikan bandingannya di negeri manapun di dunia ini termasuk dalam hal keindahannya atau sebagaimana diibaratkan oleh Mpu Tanakung sebagai bahtera (perahu besar) sebagai lambang perjalanan kehidupan warga bangsa dengan aneka bunga nan indah di dalamnya, ternyata kembali di era ini tidak kunjung membuat sadar para elit akan potensi kebesaran yang bisa diraih bangsa dan negerinya.
            Tanpa bermaksud bersikap rasial, tapi fakta empiris ini bisa dibuktikan. Menjelajah ke berbagai negeri di belahan bumi. Suatu saat engkau akan sadari, bahwa orang-orang yang baik itu kebanyakan mereka dari orang-orang Asia, tepatnya mereka tinggal pada belahan Asia sebelah timur. Dan dari belahan sebelah timur ini, orang-orang yang baik akan lebih banyak ditemukan di wilayah yang disebut dengan Asia Tenggara. Dan dari negeri-negeri Asia tenggara ini, yang rata-rata baik adalah orang Indonesia. Paling tidak mereka pada dasarnya bukanlah tipe orang-orang yang agresif. Selalu tersenyum dan hangat terhadap orang lain. Itulah salah satu potensi baik yang dimiliki negeri ini, smiling people! Gak ngeyelan seperti kebanyakan orang Arab, gak bawel seperti orang Perancis, gak kemlinthi seperti orang India, gak brangasan seperti orang Bangladesh, gak angkuh seperti orang Belanda, gak rasialis seperti orang Australia, gak nggedabrus seperti orang Mesir, gak petenthang-petentheng dan norak seperti orang AS, gak snobis alias pameran(kekayaan) seperti orang Cina, gak pelit seperti orang Jepang, tentu saja ini stereotype. Karena ini fakta empiris dari pengalaman lewat interasksi individu, yang bisa jadi hanya kebetulan. Cause good guys and bad guys is everywhere. Secara rata-rata orang Indonesia memang baik, dan itu banyak diakui orang lain. Sampai-sampai di kalangan ekspatriat di ibukota ada guyonan: What are the best in the world? Jawabannya: American salary, Germany car, Chinesse food, and Indonesian wife. Ini sama sekali bukan bermaksud merendahkan bahwa ternyata bule-bule itu punmengakui, mereka mengapresiasi keluhuran budi perempuan Indonesia, karena mereka hormat pada suami. Walaupun pada guyona berikutnya yang agak menyesakkan: What are the worst? American wife, Germany food, Chinesse car, and Indonesian salary! Mereka tahu nasib buruh di negeri ini, yang memang masih tak beranjak dari persengketaan saat penetapan Upah Minimum.
            Bicara tentang keindahan alam,saya tak hendak mengatakan bahwa di negeri lain tidak ada yang indah. Tapi ijinkan dalam ruang yang terbatas ini sebagai ilustrasi saja, negeri jiran yang saya tahu jelas tak ada apa-apanya dari segi keindahan alamnya dibandingkan dengan aneka keindahan alam yang sangat mudah ditemui di negeri kita. Karena dimanajemeni dengan baik, ternyata mereka bisa mendatangkan wisatawan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan wisatawan yang datang ke negeri kita.
            Indonesia adalah negeri tropis dengan keanekaragaman hayati hutan maupun laut yang tiada duanya. Sebagai negara yang berada di wilayah tropis itu sudah merupakan sebuah keuntungan, sebagai negeri dengan gugusan kepulauan itu sebuah keuntungan. Di negara empat musim, hanya bisa tanam satu kali musim. Saat musim dingin butuh jaket/ baju tebal, penghangat ruangan, dan setiap pagi sebelum jam kantor, jalanan harus dibersihkan dari tumpukan salju. Hanya ada dua negeri yang memiliki kekayaan flora yang demikian beragam, Brasil dan negeri kita. Tetapi untuk biota laut, sebagai negeri kepulauan, negeri ini memiliki ribuan kilometer garis pantai, dan sebagaimana diketahui kekayaan biota laut utamanya berada di sekitar garis pantai dimana sinar matahari masih bisa menjangkau sampai dasar laut. Sayangnya, jutaan hektar hutan hanya dikuasai sekitar 25 orang pemilik modal alias yang memegang lisensi HPH, menjadikan hancurnya habitat flora dan fauna tanpa ada efek yang berarti dalam peningkatan kemakmuran. Dan ironinya, negeri yang demikian subur nan kaya potensi, ternyata banyak mengimpor aneka produk pangan. Bahkan aneka benih tanaman pangan, banyak yang patennya dikuasai oleh perusahaan asing meskipun benihnya asli dari negeri ini. Sementara India bisa ekspor beras, bawang dan cabai; Cina bisa ekspor semua komoditi termasuk pertanian meskipun kebutuhan pangan penduduknya sangat besar.
            Kesuburan dan kekayaan alam. Pergilah ke negari tetangga, Australia dan tepatnya bagian selatan benua itu, atau kunjungilah negeri-negeri sub tropis di belahan utara. Sampah dedaunan bisa membutuhkan waktu lebih dari 1 tahun bahkan lebih untuk bisa terurai. Di Indonesia, karena kondisi alamnya memungkinkan hidup ribuan jenis mikroorganisme pengurai yang memungkinkan tanah di negeri ini secara alami sudah subur. Belum lagi untaian gunung berapi yang setiap kali menabur debu kaya mineral yang akan menyuburkan tanah. Aneka bahan tambang dari mineral, batubara, minyak dan gas bumi, sampai panas bumi. Untuk minyak bumi memang sudah hampir terkuras habis meskipun masih ada potensi cadangan di area laut dalam. Untuk batubara, kita punya cadangan terbesar di dunia, demikian pula potensi tenaga panas bumi. Potensi tenaga surya dan angin juga sangat besar. Yang menyedihkan, hampir semua aset tambang dan sektor energi di negeri ini telah dikuasai oleh kepentingan asing, bahkan kebutuhan air minum penduduk. Dan yang mengherankan, kita lebih memilih pengembangan transportasi publik yang berbahan bakar fosil. Jika suatu saat, minyak bumi telah habis bisa dibayangkan puluhan juta bangkai kendaraan bermotor berserakan sebagai besi tua. Sekiranya yang dikembangkan kereta api listrik, cukup di pusat pembangkitnya jenis bahan bakar yang digantikan.

[bersambung.. Bahtera Seribu Aneka Bunga (bagian ketiga)http://praukembang.blogspot.com/2014/06/bahtera-seribu-aneka-bunga-bagian-ketiga.html]

This entry was posted on Saturday, June 14, 2014 at 1:19 PM and is filed under , , , , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment