Takut Bercermin?  

Posted by Unknown in , , , , , ,

Jika surga adalah tempat yang sebaik-baiknya tempat dan dipeuntukkan bagi mereka yang baik, maka neraka adalah seburuk-buruknya tempat dan diperuntukkan bagi mereka yang buruk. Sudah barang tentu manusia akan berusaha menjadi baik, bahkan akhirnya berlomba-lomba untuk menjadi baik. Salah satu sifat dasar makhluk hidup adalah kompetisi. Maka dalam hal menjadi baik pun manusia akan menjadikannya sebagai kompetisi. Namun yang menjadi masalah adalah sudut pandang manusia yang terbatas dalam menilai kebaikan maupun keburukan, yang kemudian melahirkan yang namanya penilaian semu yang sebenarnya hanyalan penilaian wang-sinawang (berdasarkan beberapa sudut pandang saja) yang menimbulkan keresahan dan ketidak-relaan kalo sampai dirinya terlihat buruk. Ketakutan akan ancaman neraka dan penilaian orang lain yang memicu untuk tidak perlu membaca keburukan diri sendiri.

Dalam idiom jawa ada ungkapan “bisa a rumangsa, aja rumangsa bisa” (bisalah merasakan-memikirkan, jangan merasa-berpikir bisa). Maksud jangan merasa dan berpikir bisa disini bukan dalam konteks optimis atau agar tidak minder, melaikan dalam konteks bahwa jangan sampai menganggap remeh semua hal, jangan sombong pada kemampuan dan kebaikan diri sendiri, karena  akan merasa diri tidak mungkin buruk atau salah. Namun harus bisalah merasakan juga memikirkan. Merasakan dan memikirkan apakah diri sudah bisa, atau sudah baik, ataukah masih banyak keburukan di dalam diri.

Niscaya jika benar-benar berpikir maupun benar-benar merasakan, akan mendapati diri sendiri masih jauh dari baik, masih banyak keburukan yang ada. Bahkan bagi orang jawa atau siapapun pemegang idiom in) akan semakin baik bagi manusia jika merasa semakin kecilnya kemampuan dan semakin buruknya diri sendiri, berarti tingkat kesadaran terhadap diri sendiri dan tingkat koreksi pada diri sendiri sejatinya telah tinggi dan meningkat. Karena manusia dan kesadaran serta penilaian manusia itu dinamis maka diperlukan koreksi terus menerus. Karenanya dengan terus menggunakan nalar dan rasa untuk mengoreksi diri akan membuat manusia lebih berhati-hati, lebih punya perhitungan dalam tingkah laku sehingga semakin menjauhi keburukan. Dan hasil dari koreksi ini akan tercermin dari tingkah laku sehari- hari yang semakin hari semakin mengarah pada kebaikan (berdasarkan parameter serta nilai-nilai kebaikan yang dipahami individu pelaksana idiom ini).


Saya pernah tergelitik untuk berpikir “bagaimana jika surga dan neraka itu juga merupakan ujian Tuhan kepada manusia. Bagaimana jika ternyata Tuhan ingin menyaksikan manusia sungguh-sungguh berbuat kebaikan dan menghindari keburukan demi Dia ataukah karena surga dan neraka”. Jika manusia melakukan segala sesuatu kebaikan ataupun menjauhi keburukan karena surga dan neraka maka kesadaran manusia lebih rendah dari makhluk Tuhan yang bernama surga maupun neraka. Dan lebih parahnya manusia berarti telah menomor dua-kan Tuhan karena melakukan kebaikan bukan karena cinta manusia kepada Tuhan melainkan mengharap surga dan tidak melakukan keburukan karena takut neraka bukan karena takut pada Tuhannya. Namun terlepas dari pemikiran yang menggelitik ini intinya apa salahnya kita terus mengoreksi dengan dan berani merasa bahwa masih ada keburukan yang perlu dihilangkan dari dalam diri, serta masih tingkat kebaikan kita masih jauh dari untuk bisa dikatakan bahkan sebagai kebaikan. Dan kita melakukan semua itu Hanya untuk Tuhan semata, demi cinta Nya, takut pada murka Nya, sehingga tidak lupa bahwa surga dan neraka adalah makhluk Tuhan juga.

Yogyakarta, 01 Juni 2014 (radite manis/ 21 Ruwah 1947)

A.D.A.

This entry was posted on Sunday, June 1, 2014 at 10:00 PM and is filed under , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment