Jika surga adalah tempat yang sebaik-baiknya
tempat dan dipeuntukkan bagi mereka yang baik, maka neraka adalah
seburuk-buruknya tempat dan diperuntukkan bagi mereka yang buruk. Sudah barang
tentu manusia akan berusaha menjadi baik, bahkan akhirnya berlomba-lomba untuk
menjadi baik. Salah satu sifat dasar makhluk hidup adalah kompetisi. Maka dalam
hal menjadi baik pun manusia akan menjadikannya sebagai kompetisi. Namun yang
menjadi masalah adalah sudut pandang manusia yang terbatas dalam menilai
kebaikan maupun keburukan, yang kemudian melahirkan yang namanya penilaian semu
yang sebenarnya hanyalan penilaian wang-sinawang
(berdasarkan beberapa sudut pandang saja) yang menimbulkan keresahan dan
ketidak-relaan kalo sampai dirinya terlihat buruk. Ketakutan akan ancaman
neraka dan penilaian orang lain yang memicu untuk tidak perlu membaca keburukan
diri sendiri.
Dalam idiom jawa ada ungkapan “bisa a rumangsa, aja rumangsa bisa”
(bisalah merasakan-memikirkan, jangan merasa-berpikir bisa). Maksud jangan
merasa dan berpikir bisa disini bukan dalam konteks optimis atau agar tidak
minder, melaikan dalam konteks bahwa jangan sampai menganggap remeh semua hal,
jangan sombong pada kemampuan dan kebaikan diri sendiri, karena akan merasa diri tidak mungkin buruk atau
salah. Namun harus bisalah merasakan juga memikirkan. Merasakan dan
memikirkan apakah diri sudah bisa, atau sudah baik, ataukah masih banyak
keburukan di dalam diri.
Niscaya jika benar-benar berpikir maupun
benar-benar merasakan, akan mendapati diri sendiri masih jauh dari baik, masih
banyak keburukan yang ada. Bahkan bagi orang jawa atau siapapun pemegang idiom
in) akan semakin baik bagi manusia jika merasa semakin kecilnya kemampuan dan
semakin buruknya diri sendiri, berarti tingkat kesadaran terhadap diri sendiri
dan tingkat koreksi pada diri sendiri sejatinya telah tinggi dan meningkat.
Karena manusia dan kesadaran serta penilaian manusia itu dinamis maka
diperlukan koreksi terus menerus. Karenanya dengan terus menggunakan nalar dan
rasa untuk mengoreksi diri akan membuat manusia lebih berhati-hati, lebih punya
perhitungan dalam tingkah laku sehingga semakin menjauhi keburukan. Dan hasil
dari koreksi ini akan tercermin dari tingkah laku sehari- hari yang semakin
hari semakin mengarah pada kebaikan (berdasarkan parameter serta nilai-nilai
kebaikan yang dipahami individu pelaksana idiom ini).
Saya pernah tergelitik untuk berpikir
“bagaimana jika surga dan neraka itu juga merupakan ujian Tuhan kepada manusia.
Bagaimana jika ternyata Tuhan ingin menyaksikan manusia sungguh-sungguh berbuat
kebaikan dan menghindari keburukan demi Dia ataukah karena surga dan neraka”.
Jika manusia melakukan segala sesuatu kebaikan ataupun menjauhi keburukan
karena surga dan neraka maka kesadaran manusia lebih rendah dari makhluk Tuhan
yang bernama surga maupun neraka. Dan lebih parahnya manusia berarti telah
menomor dua-kan Tuhan karena melakukan kebaikan bukan karena cinta manusia
kepada Tuhan melainkan mengharap surga dan tidak melakukan keburukan karena
takut neraka bukan karena takut pada Tuhannya. Namun terlepas dari pemikiran
yang menggelitik ini intinya apa salahnya kita terus mengoreksi dengan dan
berani merasa bahwa masih ada keburukan yang perlu dihilangkan dari dalam diri,
serta masih tingkat kebaikan kita masih jauh dari untuk bisa dikatakan bahkan
sebagai kebaikan. Dan kita melakukan semua itu Hanya untuk Tuhan semata, demi
cinta Nya, takut pada murka Nya, sehingga tidak lupa bahwa surga dan neraka
adalah makhluk Tuhan juga.
Yogyakarta, 01 Juni 2014 (radite manis/ 21 Ruwah 1947)
A.D.A.