Ungkapan Zaman
MERAYAKAN ‘MANUSIA BUNGA’
Oleh Anis Sholeh Ba’asyin
Saat ditanya, “Mengapa membalas kejahatan dengan
kebaikan?” Isa AS menjawab, “Karena di keranjangku hanya ada bunga!” Sungguh
sedikit orang yang keranjangnya Cuma berisi bunga. Yang umum bunga di
permukaan, sampah dibawahnya.
Celakanya,
banyak yang merasa keranjangnya penuh bunga, tanpa sadar sampah menumpuk di
bawahnya. Buktinya untuk satu dua sampah yang dilemparkan, dia akan membalas
dengan bunga. Tetapi, tidak untuk sampah kelima-enam- tujuh dan seterusnya;
tinggal sampah yang dia punya untuk membalas sampah.
Lebih
celaka lagi, selalu ada rasionalisasi untuk membaca sampah sebagai bunga. Dengan
demikian, tanpa sadar, substansi sampah dan bunga di dalam diri menjadi kabur,
karena semuanya cenderung dibaca sebagai bunga.
Ini semua
terjadi karena alasan sederhana. Kita sering lupa, kemampuan membaca sampah
karena kita punya simpanan perbendaharaan bahasa sampah dalam diri. Perbendaharaan
yang potensial muncul saat ditekan realitas sampah di sekitar kita.
Sudut
pandang seperti inilah yang sering dipakai seorang sufi ketika mengatakan, apa
yang kau lihat sebagai kejahatan, adalah bagian dari dirimu yang belum kau
sucikan. Karena keyakinan itu, sang sufi biasa menyuruh muridnya untuk lebih
dulu menengok ke dalam diri, sebelum membuat respon terhadap apapun.
Respon
pertama ketika orang membaca sampah, seharusnya adalah menemukan dan menghapus -atau
paling tidak mengarantina- sampah serupa yang bercokol di dalam diri.
Ini biasanya
malas dijalankan, karena orang takut melihat sampahnya sendiri yang akan
membuat dirinya terlihat buruk. Padahal inilah langkah pertama keimanan.
Ketika
ditanya: apa ciri orang beriman, Imam Ali menjawab orang yang merasa dirinya
sebagai makhluk paling buruk di seluruh semesta. Dalam perspektif ini, orang
tak bisa menyebut dirinya beriman sebelum memposisikan dirinya sendiri sebagai
orang yang penuh keburukan diantara seluruh ciptaan Allah.
Bila kita
bisa menyadari kesalahan, kelemahan, kerapuhan, kebodohan kta sendiri; kita diharap
lebih bisa lapang dalam menyikapi sampah serupa yang ada di luar.
Lailatul Qadr
Dalam
perspektif Ibn ‘Arabi, puncak pencapaian puasa adalah diraihnya lailatul qadr
atau malam yang mulia. Lailatul qadr menurut ta’ wil Ibn ‘Arabi adalah ‘tubuh
Muhammad’.
Malam,
karena kegelapannya, adalah symbol wujud; dan malam atau wujud paling mulia
adalah Muhammad SAW. Beliaulah yang kemudian dijuluki insane kamil atau
(istilah popular dikalangan sufi) ‘manusia Tuhan’.
Banyak
hadist menegaskan, betapa Rasul SAW memerintahkan muslim untuk meraih lailatul
qadr di sepertiga akhir Ramadhan.
Dan jika
lailatul qadr kita maknai sebagai insane kamil, maka seharusnya puasa Ramadhan
dibaca sebagai puncak dari pengelolaan diri selama sebelas bulan sebelumnya.
Sedangkan
sepertiga akhir ramdha menjadi puncak ‘pembakaran’ (sesuai dengan makna literal
Ramadhan)segenap ‘sampah’ keberadaan parsial dan particular kita, sehingga kita
punya kesempatan meraih posisi lailatul qadr atau ‘manusia Tuhan’ atau ‘manusia
universal’ atau istilah kaum sufi ‘insan kamil’.
Secara
sederhana, menjadi ‘manusia Tuhan’, adalah posisi dimana orang punya kesempatan
untuk berpartisipasi merealisasikan universalitas Tuhan dalam partikularitas
ruang waktunya sendiri. Tapi ini tidak lantas mereka jadi digdaya.
Betapapun, pada akhirya mereka tetap manusia dengan
segenap kelemahan dan kerapuhan yang menjadi bawaan keberadaanya. Kesadaran tentang
posisinya yang unik (di satu sisi mengejawantahkan universalitas Tuhan, baik di
sisi lain dikurung keberadaan parsial-partikularnya) inilah yang justru membuat
mereka harus benar-benar mampu selalu
menjaga diri (tujuan puasa memang ’agar kamu bertaqwa’, sedasngkan pengertian taqwa
adalah menjaga diri) untuk tidak
memaksakan klaimnya atas universalitas itu sendiri.
Kualitas manusia seperti inilah yang akan benar-benar
mampu berperan sebagai wakil Allah, tanpa dikotori oleh ’sampah’ kepentingan
kemanusiaan parsial-partiularnya sendiri. Mereka akan selalu mampu berbahasa ‘bunga’,
sekalipun hidup didalam kubangan ‘sampah’. Ini karena pada hakikatnya ‘manusia
Tuhan’ bisa selalu bertelanjang untuk embaca ‘Tuhan’ dalam medan pluralitas
kenyataan lewat ‘Tuhan’ di dalam dirinya.
Manusia
Bunga
Kalau kita pakai perspektif ini, puasa adalah momentum
penemuan kembali fitrah kita sebagai lailatul qadr, ‘manusia Tuhan’, manusia
universal atau insane kamil. Dan -menurut sebuah hadist qudsi- manusia memang
diciptakan dalam citra ar-Rahman, Sang Penyayang.
Rahman adalah sifat utama Tuhan, yang merengkuh
siapapun dengan kasih. Nah sebagai citra ar-Rahman, secara sederhana insane kamil
bisa dibaca sebagai model manusia yang –menurut ungkapan Isa AS- ‘dikeranjangnya
hanya ada ‘bunga’; sehingga akan berhubungan dengan apapun dengan bahasa ‘bunga’.
Masalahnya: sudahkah pusa menjadi momentum lahirnya
manusia-manusia yang dikeranjangnya hanya ada bunga?bunga-bunga yang
menyebabkan semua interaksi sosial-ekonomi-politik-budaya kita menjadi
interaksi yang bernafas bunga?
Bunga-bunga yang mampu menghapus bau tak sedap sampah
yang dilempar ke tengah kita oleh pihak-pihak yang tak sempat menyadari
kesampahannya?
Sungguh, hanya mereka yang berpuasalah yang mampu
menjadi manusia bunga; dan hanya manusia bunga-lah yang akan membangun kapal
bunga. Kapal yang akan mampu merajut taman Indonesia atau Nusantara atau apapun
namanya. Bila tidak, maka sebalinyalah yang akan terjadi, meminjam ungkapan sufi
‘dia yang ditangan agama, jiwanya jiwanya tak bagai salju meleleh; di tangannya
agama bagai salju meleleh’